oleh

Kelas Keliling 100 Kota di Indonesia Bahas Literasi Media Sosial

Jakarta, TribunAsia.com – Kelas keliling 100 Kota di Indonesia membahas tentang literasi media sosial di Jatinegara, Jakarta Timur. Hersubeno Arief sebagai salah seorang penulis viral mengatakan, diera digitalisasi setiap orang dapat menuangkan bentuk tulisan diberbagai media sosial.

Menurut dia, dengan kemajuan teknologi setiap orang dengan mudah mekakukan seperti profesi sebagai wartawan. Namun demikian, Hersubeno pun mengajak para hadirin untuk segera memulai untuk menulis.

“Jadi setiap orang bisa menjadi wartawan dan setiap orang bisa jadi penerbit. Sekarang kapan anda bisa menulis,” ujarnya di kantor Sekretariat Barisan Nusantara, Minggu (22/9/2019).

Kata wartawan senior itu, tulisan-tulisan yang telah dilansir dan saat ini banyak dikutip ulang oleh para penulis terutama karya dari penulis terkenal hingga viral. Akan tetapi, keterbukaan informasi berdampak pada media cetak karena berkembang media sosial.

“Bisnis media cetak sekarang akan menjadi masalah lalu. Kebutuhan orang tua itu nantinya anggaran yang dia punya itu untuk kesehatan,” kata dia.

Penulis tersebut menyarankan, untuk menulis tidak perlu terkait masalah sosial, ekonomi bahkan tentang kebudayaan. Untuk memulai menulis disampaikan dia, cukup dengan kalimat sederhana seperti ungkapan kata-kata lelucon.

“Jadi yang ingin saya sampaikan nggak perlu nulis disosial, ekonomi curhat saja sudah bisa. Bisa bercanda-candaan saja bisa,” tandasnya.

M. Chosin Amirullah selaku Koordinator Turun Tangan menyampaikan disela-sela literasi media sosial untuk membangun kesadaran masyarakat dengan konten yang bagus. Terlebih, melalui bimbingan literasi tersebut diharapkan pengguna media sosial dapat lebih bijak memanfaatkan fasilitas lini masa itu.

“Perlu kita buat forum-forum semacam ini untuk membangun kesadaran bukan memuja-muja, kalau kita membangun konten-konten yang bagus,” kata staf khusus Gubernur DKI Jakarta.

Untuk memperbaiki negara, Chosin mepaparkan dunia politik harus diisi oleh orang-orang mulia. Ia memberikan contoh, RUU KPK berdampak pada pelemahan lembaga anti rasuah dikarenakan intervensi pihak istana. Meskipun sebaliknya, dari sisi publik berlawanan KPK perlu didukung.

“Kalau untuk memperbaiki negara ini orang baik harus berpolitik diisi orang-orang mulia. Contoh, revisi undang-undang KPK kita berjuta-juta orang ingin diperkuat, satu orang di istana sekarang KPK mandul,” jelasnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *