oleh

Cinta Tanpa Batas BJ Habibie Di MAN Insan Cendekia Serpong

Tangsel, TribunAsia.com – Katanya singkat namun bermakna bagi seluruh tenaga pendidik di MAN Insan Cendekia Serpong, Tangerang Selatan.

Cerita itu bermula di tahun 1996 dikawasan perkebunan karet yang tersisa, konsep mencetak generasi berjiwa teknokrat dan berhati Mekah adalah buah pemikiran BJ Habibie membangun sekolah Islam yang awalnya bernama Magnet School.

Masih di tahun yang sama pembangunan gedung sekolah berbarengan dengan pembangunan sekolah Magnet School yang berada di Parepare, akhirnya setahun kemudian berganti nama menjadi Insan Cendekia Boarding School sebelumnya dibawah penanggungan BPPT Kemenristek RI seiring berjalan jalan kini dibawah naungan Kementerian Agama RI lalu berganti nama menjadi MAN Insan Cendekia Serpong.

The Principle MAN Insan Cendekia Serpong, Dra. Persahini Sidik, M.Si dan akrab disapa Mrs Feni kepada wartawan, kemarin, Kamis (12/09/2019) mengisahkan sosok BJ Habibie dan MAN Insan Cendekia Serpong.

“Sebagai foundhing father ICS (Insan Cendekia Serpong.red) beliau sangat jarang sekali datang hanya sesekali ya memang begitulah beliau sangat sibuk dengan dirinya berfikir mencetak SDM yang unggul dalam tehnologi namun berhati mekah.

Masih kata Sahini, itu yang saya tangkap dari konsep membangun sekolah ini.

“Disekolah ini memang tak ada ruangan atau benda yang disukai Bapak, itu tadi sebab bapak hanya sepintas saja datang lalu pergi lagi,” urainya.

Feni mengenang pernah suatu kali, security menghubunginya memberitahu bahwa ada tamu datang memakai motor gede (Moge).

“Karena  bapak juga suka motor gede tapi lagi-lagi bapak hanya muterin sekolah lalu pergi, ya aku bilang sama security bahwa yang datang Pak Habibie, lantas jawab security lagi, Bapak sudah pergi lagi bu,” kenangnya atas kepribadian BJ Habibie yang sangat super sibuk dan kebetulan saat itu masih menjabat Menristek.

Ia melanjutkan yang sangat terkesan dari Bapak Habibie adalah kata-katanya yang pendek dan saat disampaikan dihadapan guru-guru dan seluruh pengelola sekolah.

“Bapak pernah bilang kita harus memiliki cinta tanpa batas , maaf mas saya sempat menangis saat tadi tauziah kerumah bapak, sebelum ke pemakaman, ya! Kata cinta tanpa batas itu yang jadi saya terharu,” papar Feni seraya menitikan air mata mengenang BJ Habibie.

Dia pun melanjutkan Bapak (BJ Habibie), bermimpi suatu saat akan ada pemimpin di Indonesia seorang ahli teknokrat namun dapat berdakwah dan menjadi imam sholat, tidak dikotomikan agama dan pengetahuan.

“Bapak menginginkan untuk menyatukan antara Iptek dan Infaq hingga lahirlah insan Cendikia, sekolah ini mengembangkan ilmu pengetahuan agama dan Iptek secara bersamaan,” ucapnya mengingat.

“Nama insan cendekia sendiri dari Ibu Ainun, bersama bapak keduanya menanam pohon paris yang masih ada di depan Masjid sekolah ini,” katanya lagi.

Sekolah Insan Cendikia juga akan memberikan satu ruangan khusus yang di beri nama ruangan BJ Habibie untuk mengenang jasa-jasanya.

“Insya Allah akan ada satu ruangan yang diberi nama bapak (BJ Habibie) saat ini masih proses dan kalimat cinta tanpa batas dari bapak selalu kami jadikan pesan bagi murid-murid untuk bersikap, berbuat, dan belajar disini,” pungkas Mrs Feni.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *