oleh

Almarhum BJ Habibie Dimata Khofifah “Out of the Box”

Jakarta, TribunAsia.com – Almarhum BJ Habibie dimata Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa merupakan tokoh yang menginisiasi Free Trade Zone di Batam. Menurut dia, mantan Presiden RI ke-3 itu memiliki pemikiran yang luar biasa (out of the box) mulai sejak tahun 1973.

“Beliau sangat banyak inisiasi-inisiasinya out of the box, bayangkan saja sejak tahun 1973 beliau menginisiasi Free Trade Area atau menginisiasi Free Trade Zone Batam,” kata Khofifah kepada TribunAsia.com, Jum’at (13/9/2019).

Namun, kata mantan Mensos RI itu, letak Batam sangat berpotensi dari segi ekonomi  karena berdekatan dengan negara Singapura. Dari ide brilian Habibie tersebut dipaparkan Khofifah, Free Trade Zone ikuti oleh negara Cina dan India setelah Indonesia menerapkan apa yang telah diinisiasi BJ Habibie.

“Batam itu ialah daerah yang terhimpit oleh negara Singapura karena pertumbuhan ekonomi begitu pesat di Batam. Tahun 74 Cina mengikuti kemudian India mengikuti itu inisiatornya adalah Indonesia,” ungkapnya.

Diketahui, Free Trade Zone yakni kawasan perdagangan maupun pelabuhan yang diperlukan melalui kebijakan khusus atas penghapusan bea dan cukai/pajak (non-tarif). Hal tersebut untuk meningkatkan produksi lokal dan bermanfaat disektor perdagangan yang terdapat di Batam, Sabang, Bintan dan Karimun.

Kemudian, diharapkan kepada generasi muda Indonesia di tahun 2019 dapat megcreat ide-ide yang telah diwujudkan oleh almarhum BJ Habibie. Seperti di Cina dan India Iptek yang dimiliki BJ Habibie dicontoh dan diimplementasikan didunia industri.

“Ditangan Pak Habibi Free Trade Area atau Free Trade Zone Batam itu bisa tumbuh, nah  sekarang PR kita dari tahun 1973 hingga sekarang 2019 daerah-daerah mana yang yang kita bisa create sebagai Free Trade Area atau Free Trade Zone baru. Diberbagai daerah atau negara di Cina direplikasi dan di banyak kota di India,” tegasnya.

Terlebih, dia mengajak masyarakat dari rentetan inspirasi yang ditelurkan almarhum BJ Habibie diutarakan Khofifah Indar Parawansa disarankan harus lebih inklusif.

“Pikiran-pikiran (inovasi) out of the box itu jadi bagian terpenting. Pertanyaannya kita harus lebih inklusif dengan kelompok-kelompok yang masih inklusif,” tandasnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *