oleh

Hukum Internasional PBB: Gerakan Ekstrimisme dan Separatisme Usik Papua dari NKRI

Depok, TribunAsia.com – Kedaulatan wilayah Indonesia kuat secara Hukum Internasional PBB. Gerakan protes dan kerusuhan di Papua dan aksi LSM Asing yang menyebarkan isu rasial adalah separatisme dan ekstremisme.

“Persatuan Indonesia dalam kedaulatan wilayah sudah mendapat pengakuan kedaulatan secara Internasional. Maka, setiap gerakan yang merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan aksi ekstrimisme dan separatisme seperti hal yang terjadi di Papua belakangan ini,” ujar Profesor Eddy Pratomo, Guru Besar Hukum Internasional dan Kepala Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional Universitas Pancasila (LHKI-UP) seperti dilaporkan TribunAsia.com, Selasa (10/9/2019).

Disebutkan mantan Duta Besar Indonesia di Jerman ini, wilayah teritorial Indonesia sudah final di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu bekas kolonial Belanda yang kalah perang dengan Indonesia yang berdaulat pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Menurut Eddy Pratomo, kerusuhan dan aksi antirasialis di Papua hanya menjadi konsumsi separatisme dan kegiatan LSM asing yang tak bertanggung jawab yang mencari keuntungan materil seperti aktivitas warga negara Australia di Papua yang ikut unjuk rasa dan berbagai tindakan yang bertujuan untuk memprovokasi dan membahayakan persatuan bangsa.

Demi punya tanggung jawab untuk menguatkan nilai Pancasila terutama pada Sila ke-3 yaitu Persatuan Indonesia. Pusat Studi Pancasila Universitas Pancasila  gelar Sarasehan ‘Relevansi Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Mengatasi Radikalisme dan Isu Separatisme’.

Berkaitan antisipasi isu ekstrimisme dan separatisme ini, Ketua Pusat Studi Pancasila UP, Hendra Nurtjahjo, mantan Komisioner Ombudsman ini mengatakan, saat ijo  PSP-UP sedang mengembangkan instrumen Pengukuran indeks Pancasila Harapan dan pendidikan Pancasila. Dikembangkan selain mahasiswa dapat menerapkan pada kehidupan sehari-harinya, juga untuk mencegah benih-benih gerakan dan isu-isu radikalisme maupun separatisme agar mendapat tempat dikalangan generasi muda. (HIR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *