oleh

Habibie

TribunAsia.com

Oleh : Iwan Syam

Dulu sekali, ketika masih kecil aku pernah bercita-cita jadi dokter. Setiap ditanya mau jadi apa bila sudah besar, selalu kujawab mau jadi dokter.

Habibie adalah orang yang mengubah cita-citaku. Suatu hari, aku terkesima melihat sosok satu ini di Televisi. Usiaku saat itu 12 tahun. Aktif di Pramuka dan masih duduk di bangku SMP.

Aku tak lagi berminat menjadi dokter. Aku bilang pada orang-orang bahwa aku ingin jadi Insinyur, seperti pak Habibie. Aku bertekad ingin kuliah di ITB Bandung, belajar bikin pesawat.

Aku lantas keranjingan sains. Ke perpustakaan cuma untuk baca buku-buku tentang pesawat terbang, luar angkasa dan astronomi. Film Star Trek tak pernah kulewatkan. Aku bermimpi jadi pilot. Aku suka berkhayal jadi astronot. Bahkan jadi Superman.

Habibie telah mengubah cita-citaku. Sayangnya, saat duduk di bangku SMA dan sudah masuk di jurusan Fisika, aku dapat guru yang jelek. Cara mengajar Fisikanya sulit dimengerti. Jengkel aku dibuatnya. Rumus sederhana dibuat jadi rumit. Aku membenci pelajaran Fisika meski tetap menyukai matematika. Perlahan cita-citaku jadi Insinyur luruh. Tapi aku tetap mengidolakan Habibie.

Aku tetap ambil jurusan keteknikan saat hendak masuk kuliah, sayangnya tidak lolos ke ITB. Yang menerimaku adalah jurusan Geografi Teknik di UGM Jogjakarta. Tak apalah, masih berbau planet juga. Planet Bumi. Mulai dari situ, aku beranggapan dunia sains kurang menarik bagiku. Lantas aku mulai suka menulis artikel di majalah. Aktif juga di berbagai organisasi.

Itulah mungkin yang membuatku tercebur pada bidang yang jadi sumber penghidupanku sekarang. Jadi jurnalis. Dan dengan begitu aku berkesempatan bertemu dengan idola masa kecilku itu, di kantornya : Kantor Menristek.

Itu terjadi tahun 1996 saat satu event besar Pameran Dirgantara digelar, Indonesia Air Show 1996. Saat itulah mewakili surat kabar tempatku bekerja, aku menuliskan banyak hal tentang Habibie, dan kerap mewawancarainya dalam berbagai kesempatan. Hingga beliau menjadi Wakil Presiden, hingga dilantik jadi Presiden Republik Indonesia.

Dan kini, beliau pergi selama2 nya menghadap Allah SWT. Selamat jalan pak Habibie. Kami sungguh kehilanganmu, negarawan bertubuh kecil dengan visi besar dan luar biasa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *