oleh

Rangka Kapal Laut Dagang Diperkirakan Era Kerajaan Sriwijaya Ditemukan di TJT Jambi

Muarasabak, TribunAsia.com – Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jambi dan Tim Arkeolog Universitas Indonesia (UI) belum bisa memastikan jenis kapal atau perahu kuno dari penggaliann yang terkubur selama 700 tahun di Desa Lambur I Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi masih diselimuti misteri. Kendaraan tranportasi air ini diperkirakan adalah kapal atau perahu dagang di era Kerajaan Sriwijaya.

Dilaporkan TribunAsia, Sabtu (24/8). Penemuan kapal kuno ini terungkap saat digelarnya konfrensi Pers di Ruang Polah Kantor Bupati Tanjung Jabung Timur, dimoderatori oleh Bupati Tanjung Jabung Timur Romi Hariyanto dengan narasumber dari Tim Arkeologi UI, Tim BPCB Provinsi Jambi, dan Profesor Chiara Zazzaro dari associate Professor of Maritime Archaeology Universitas Napoli, serta Kepala Dinas Litbang dan Asisten 2 Setda Tanjung Jabung Timur. (Jum’at, 23/08).

Kejaksaan Negeri Jakarta Timur - ZONA INTEGRITAS (Wilayah Bebas Korupsi)

Menurut Ali Akbar dari Tim Arkeolog UI, dari struktur teknologi yang digunakan pada Perahu Kuno Lambur ini, sama dengan pasak di kapal pinisi selain ada juga ciri khusus yang tidak ditemukan pada kapal Pinisi. Pada saat bersamaan juga sedang melakukan riset terkait Kapal Pinisi di Sulawesi selatan bekerjasama dengan Universitas Napoli. Namun, pihaknya belum berani berspekulasi, karena proses penggalian atau ekskavasinya baru berjalan 25 persen.

“Pasak dan tali ijuk merupakan ciri khas perahu kuno di Desa Lambur ini, yang tidak ada pada kapal pinisi. Kita biasa menyebutnya Perahu Kuno lambur ini dengan perahu Asia Tenggara,” ujar Akbar.

Prediksi awal dari Kapal tersebut disatu sisi kiri berukuran lebar 1,5 meter, sisi kanan 1,5 meter dan minimal lebarnya 5,5 meter dan panjangnya berkemungkinan bisa mencapai 17 meter. Terkait usia Perahu Kuno ini, prediksi Ali, memiliki rentang waktu antara 1 hingga 13 Masehi.

“Bila diambil waktu termuda maka usianya bisa mencapai 700 Tahun, artinya masuk pada zaman Sriwijaya, bila umurnya lebih tua maka memasuki zaman pra-Sriwijaya. Untuk memastikan ini, Kami telah mengirim sampel ijuk dan kayu ke Badan Tenaga Nuklir Nasional, untuk diteliti lebih lanjut,‘ ujar Ali lagi.

Sedangkan Chiara Zazzaro yang sempat berkunjung dan melihat keberadaan Perahu Kuno Desa Lambur ini berkeyakinan, kendaraan air ini lebih cocok di sebut Kapal, alasannya melihat Ketebalan papan dari perahu ini. Namun demikian, tutur Chiara, dirinya akan terus mengikuti perkembangan informasi terkait riset ini. “Ketebalan papan pada perahu ini mencapai 13 sentimeter, berbeda pada ketebalan papan pada perahu pada umumnya yang hanya mencapai 2,5 sentimeter, bisa jadi panjang kapal in bisa mencapai 24 meter, dan ini jenisnya adalah kapal Dagang,” sebutnya.

Tim Arkeolog UI ini memulai risetnya pada awal Agustus dan akan berakhir pada akhir November 2019. Riset ini dilakukan berdasarkan referensi penelitian ditahun 1997 saat ditemukan potongan papan yang akhirnya diidentifikasi sebagai perahu kuno. (HIR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *