oleh

Pemerintah Bimbang antara Pabrikan dan Petani Tembakau

Bandung, TribunAsia.com – Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo mengatakan, tembakau memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara.

Namun, kontibusi dari pemerintah dalam membantu dan mempermudah para petani tembakau dinilai masih belum adil.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Salah satu alasannya ialah keluarnya regulasi yang menekan para industri tembakau.

Budidoyo menjelaskan, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia belum adil dalam membantu dan membela petani.

Dia menambahkan, permasalahan yang berkaitan dengan cukai sangat banyak. Misalnya, regulasi yang mengurangi atau menambah tekanan kepada industri hasil tembakau.

“Di samping itu, regulasi di daerah peraturan peraturan daerah tentang tanpa rokok ini sudah berdampak juga terhadap sehingga cukai tetap berdampak karena itu menyangkut kepada daya beli masyarakat,”  ungkap Budidoyo di sela sela Road to World Tobacco Growers Day (WTGD) 2019 di Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar), Selasa (13/8).

Pria yang karib disapa Budi itu menambahkan, jika pemerintah akan menaikkan culai, bakal timbul rokok-rokok ilegal.

Menurut dia, yang dirugikan adalah pemerintah. Untuk para petani, kenaikan cukai itu tidak masalah. Sebab, para pelaku industri masih membeli tembakau ke petani.

Ketua Asosiasi Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat Suryana mengatakan, daerahnya merupakan salah satu provinsi penghasil tembakau kualitas nomor satu.

Untuk kalangan dunia, Jawa Barat adalah merupakan daerah penghasil tembakau terbaik nomor lima.

Saat ini lahan untuk perkebunan tembakau di kabupaten Bandung hanya seluas 1.524 hektare, termasuk Desa Citaman, Kecamatan Nagreg.

Suryana menambahkan, produksi di Desa Citaman setiap hektare dapat menghasilkan 10-14 ton tembakau basah.

Dari tembakau basah tersebut dapat menghasilkan sekitar 3-5 ton daun tembakau kering.

Untuk  keseluruhan Jabar, kata Suryana, bisa menghasilkan 38 ribu ton. Hasil tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan tembakau di Jabar yang per tahunnya membutuhkan sekitar 138 ribu ton.

“Selama memenuhi kekurangan kebutuhan di Provinsi Jabar, kami mendatangkan dari Jawa Timur (Jatim) sekitar 70 ribu ton tembakau kering dan selebihnya  dari Nusa Tenggara Timur (NTB),” kata Suryana.

Suryana menambahkan, salah satu keunggulan produk tembakau dari Jabar adalah produk yang dihasilkan dapat dimodifikasi warna sesuai kebutuhan pasar.

“Misalnya, ingin membuat tembakau merah, hijau putih, kuning dan cokelat. Ini keunggulan Jawa Barat, sedangkan yang lain enggak ada,” terang Suryana. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *