oleh

GRAIN Tegaskan Menolak Padi Emas dan Tanaman Rekayasa Genetik

Jakarta, TribunAsia.com – Peneliti dari GRAIN Kartini Samon menegaskan isu rekayasa genetik belum menjadi perhatian publik dan pemahaman tentang itu masih sedikit sekali sehingga berbahaya untuk melepas tanaman rekayasa genetik seperti Padi Emas tanpa disertai kehati-hatian akan dampaknya.

Terutama dengan berlimpahnya varietas padi lokal yang dimiliki petani-petani di Indonesia dengan berbagai keunggulannya, pada rekayasa genetik tidak dibutuhkan.

“Bagaimana petani dan konsumen bisa memilih apa yang ingin mereka produksi dan konsumsi jika mereka tidak memiliki informasi yang benar dan memadai soal itu. Sementara pengembangan padi transgenik membutuhkan tekhnologi yang tidak bisa digunakan petani di lahan mereka,” kata Kartini, Sabtu (10/8/2019).

Baca Juga : Peneliti GRAIN Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Pertanian

“Petani juga terus mengeluh dengan benih yang mahal khususnya benih hibrida, mereka tidak bisa menanam kembali benih itu dan harus membeli benih baru setiap musim tanam. Sementara pengetahuan mereka untuk membudidayakan benih lokal terus dihambat,” sambungnya.

Lebih lanjut, regulasi yang ada tidak mengijinkan penanaman komersil benih rekayasa genetik di Indonesia. Tanaman rekayasa genetik juga bukan menjadi jawaban untuk mencapai swasembada pangan ataupun mengatasi kekurangan gizi. Untuk mengatasi itu pemerintah justru perlu lebih mendukung upaya-upaya diversifikasi dan perbaikan distribusi pangan daripada mengembangkan benih rekayasa genetik.

Baca Juga : Tolak Benih Padi Emas, Bina Desa: Benih Lokal Tidak Tergantung Pada Industri Pertanian

“Walaupun padi emas masih dalam tahap percobaan tetapi penting bagi kita untuk terus memonitor nya karena jangan sampai padi emas menjadi pintu masuk bagi benih rekayasa genetik ke Indonesia yang akan semakin merugikan petani dan konsumen,” tandasnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *