oleh

Pengidap Odha Cerita Awal Pangalaman Minum Obat dan Butuh Dorongan Kampanye

Jakarta, TribunAsia.com – Pengidap HIV/AIDS (Odha) ceritakan pengalaman ketika minum obat dan memiliki efek samping terkena campak. Kata NN (inisial) di Jalan Sabang, Jakarta Pusat pertama kali menenggak obat dari rumah sakit dirinya mengalami hal yang berbeda bahkan dia pun merasa anemia.

“Kalau nggak biasa kena efek samping hebat saya bisa kena anemia. Saya minum itu kena campek,” jelas dia saat sharing, Kamis (8/8/2019).

Ia menambahkan, pengalaman masa lalunya  tes HIV diutarakannya dirasa kurang berjalan mulus jauh berbeda dengan saat ini.  Terlebih, NN mengatakan bagi rekan-rekan dia yang disebut Odha enggan mencantumkan nama lengkap di kartu tanda penduduk (KTP).

“Dulu tes HIV nggak berjalan. Kebanyakan temen-temen dari Odha tidak mau ditulis di KTP,” ujar wanita dewasa itu.

Masih kata pengidap Odha, dia merasa terbantu dengan biaya berobat karena, NN  beberapa tahun lalu memiliki kartu jaminan kesehatan. Sekedar informasi, HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang meyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

(Foto : TribunAsia.com/Didi Wijayanto)

“Tapi sekarang ada surat pengantar, dulu ada jaminan (Jampersal) jaminan kesehatan itu biaya dijamin,” imbuhnya.

Berbeda dengan Zacky, sebagai pengantar materi dia lebih menyampaikan Indonesia tercatat 4 negara terendah dalam capaian target. Menurut dia, target yang belum terungkap dalam peta besar pengidap HIV/AIDS. Untuk tahun 2019 ini tercatat 90,90 persen itupun dibawah negara Ghana dan Pakistan.

“Didunia ini kita masuk 4 terendah dari capaian target, kita dibawah Ghana dan Pakistan. Dalam tahun ini kita harus mencapai 90,90 persen,” ujarnya.

Selain itu, dia mengharapkan dorongan kuat untuk mensosialisasikan melalui kampanye. Hal tersebut, menjadi sebuah target program nasional untuk mencapai angka 90,90 persen. Ditambahkan Zacky, 90 persen Odha diketahui tengah menjalani pengobatan dan berlanjut hingga kini.

Namun demikian, disela-sela pemaparan tentang HIV/AIDS ditandaskan dia pentingnya saling transfer pengetahuan kepada wartawan. Pada tahun 2020 mendatang, diutarakan dia,capaian Indonesia hingga 17 persen.

“Kita punya isu 90,90 itu adalah sebuah target program nasional. 90 persen yang terinfeksi tahu statusnya dan yang menjalani pengobatan melanjutkan. Kita ingin melanjutkan ke 2020 capai Indonesia 17 persen. Kita butuh dorongan yang kuat untuk kampanye,” tegasnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *