oleh

Peneliti GRAIN Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Pertanian

Jakarta, TribunAsia.com – Peneliti dari GRAIN Kartini Samon menegaskan isu trans genetik digaungkan di Indonesia, terkait benih padi emas yang akan didistribusikan. Hal tersebut disadari terdapat kerbatasnya pengetahuan pada petani. Rencananya kedepan akan dikembangkan metode yang baru tentang jenis benih padi.

“Tadi berbicara tentang isu trans genetik, karena ini masih minim dibicarakan di Indonesia sementara barangnya mau diedarkan. Bagaimana petani bisa memilih bagaimana yang terbaik untuk mereka. Indonesia mayoritas ditanami oleh petani skala kecil, sementara padi trans genetik itu tidak bisa dikembangkan di ladang-ladang petani,” terangnya kepada TribunAsia.com di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur, Jum’at (9/8/2019).

Menurut dia, benih padi yang mahal menjadi keluhan dari kalangan petani. Kata Kartini, dalam permasalahan sektor pertanian ini diharapkan pemerintah lebih memperhatikan kondisi yang terjadi terkebih pengetahuan petani lebih ditingkatkan kembali.

“Petani juga menyampaikan keluhannya beli benih juga mahal sementara benih-benih lokal sudah hilang. Beli benih hibrida setiap musim tanam. Sekali lagi, mendiskusikan bagaimana memilih makanan kita juga menjadi penting bukan saja menjadi konsumen. Cuman pemerintah, juga petani sebagai produsen pangan yang hari ini pengetahuan mereka kondisi mereka itu tidak diperhatikan,” bebernya kemarin.

Lebih lanjut, benih padi emas yang akan diedarkan tersebut saat ini masih digodok regulasinya. Meskipun kedepannya terobosan baru tersebut, disampaikan dia belum mampu membatasi kran impor pangan di Indonesia.

“Jadi kenapa padi emas secara khusus jadi padi masinis akan pintu masuk bagi tanaman. Sementara, kita belum mengizinkan secara regulasi nya belum ada. Izin menanam benih secara organik itu tidak membatasi untuk mengimpor pangan transgenik. Sejauh ini padi emas masih dalam status percobaan tinggal kita melihat ini penting untuk sosialisasi awal dulu,” tuturnya.

Baca Juga : Tolak Benih Padi Emas, Bina Desa: Benih Lokal Tidak Tergantung Pada Industri Pertanian

Sekedar informasi, GRAIN merupakan organisasi non-profit Internasional yang bekerja sama mendukung petani kecil dan gerakan sosial dalam memperjuangkan mencapai sistem pangan dalam kontrol komunitas dan berbasis keanekaragaman hayati dan alam.

Sementara, Ketua Pengurus Bina Desa menjelaskan bahwa produk pertanian seperti benih padi emas merupakan monopoli benih yang dilakukan oleh perusahaan trans nasional. Dwi Astuti menyadari, terkait dengan benih padi telah terjadi perampasan dan pengetahuan secara kasat mata disektor pertanian.

“Apa yang disampaikan Bina Desa adalah bahwa padi emas ini-kan sebetulnya monopoli benih oleh perusahaan trans nasional. Jadi secara nyata secara kasat mata perampasan pengetahuan, pengalaman petani dilakukan terus langsung terutama oleh trans nasional,” jelas dia.

Ia menilai, pengetahuan tentang pertanian telah diambil alih oleh industri yang bergerak di bidang pangan. Disamping itu, dia berharap para petani tidak tergantung pada industri pertanian dalam kesempatan tersebut dia memfasilitasi untuk penggunaan benih lokal karena hal tersebut telah dilakukan sebelum masa revolusi hijau.

“Tentang pengetahuan benih diambil alih sehingga pengetahuan tentang industri. Sehingga ketergantungan pada benih. Kalau solusinya kami itu memfasilitasi pengembangan pertanian alami,” tandasnya.

“Jadi itu menggunakan benih lokal yang sudah ada sejak sebelum revolusi hijau dan juga input-input yang alami jadi mereka juga tidak tergantung pada industri pertanian,” imbuh Dwi.

Namun demikian, lembaga organisasi non-pemerintah (ornop) dibidang pemberdayaan sumber daya manusia pedesaan menambahkan, Bina Desa lebih menyarankan untuk menggunakan benih alami dengan alasan lebih ramah lingkungan terutama kesehatan.

Hal itupun dikatakan Dwi, dampak kesehatan dari zat kimia jika diterapkan pada sektor pertanian terutama pada kaum wanita akan menyerang organ tubuh pada bagian reproduksi. Dalam diskusi itu sempat terjadi saling tukar pengalaman dan pengetahuan perihal bibit padi.

“Artinya mereka tidak menggunakan bahan kimia lebih sehat untuk lingkungan lebih sehat untuk manusianya juga. Kita tidak menawarkan benih ya, tetapi kita hanya memfasilitasi medianya saja, kalau benih itu tidak membeli, tetapi benih itu menukar jadi tidak ada transaksi uang di sini,” urainya.

“Tapi bagaimana mereka berbagi pengalaman dan pengetahuan karena bagi petani benih itu tidak bisa diperjualbelikan. Kalau masyarakat luas khususnya petani dan konsumen konsumsi-lah makanan yang sehat. Karena kalau makanan kimia itu pasti ada dampak buruknya bagi tubuh kita, untuk lingkungan kita, terutama yang masih muda apalagi untuk para perempuan masa depan memiliki peran reproduksi,” ungkapnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *