oleh

Kuasa Hukum STT Setia : 30 Tahun Kliennya Mendidik Guru PGSD

Jakarta, TribunAsia.com – Herwanto SH, menjelaskan, kliennya selama 30 tahun mendidik guru-guru PGSD yang tersebar ke daerah terpencil. Atas jasa kedua kliennya itu, kata dia, masyarakat didaerah pedalaman Papua dapat mengikuti pendidikan.

“Selama 30 tahun dia memberikan mengabdi banyak guru-guru yang sudah mengajar didaerah terpencil. Pak Matius mendidik guru-guru supaya bisa mengajar disana jadi orang-orang yang tidak bisa mengajar Pak Matius bisa mengirim ke sana,” jelas tim kuasa hukum di PN Jaktim, Jum’at (9/8/2019).

Sekedar informasi, kedua pimpinan STT Setia dieksekusi oleh Jaksa Kejari Jaktim di Rutan yang berbeda. Namun, Matheus Mangentang lebih dahulu dieksekusi ke Rutan Cipinang dan selang beberapa hari kemudian, Ernawati Simbolon dieksekusi ke Rutan Perempuan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Baca Juga : Klien Diserahkan ke Rutan Pondok Bambu, Kuasa Hukum Terpidana STT Setia Siapkan Upaya Hukum

Kuasa Hukum terpidana perkara pemalsuan ijazah tersebut, resmi mendaftarkan Pra-Peradilan ke PTSP PN Jaktim dengan tujuan menguji kewenangan Jaksa terhadap eksekusi tersebut.

“Kedepannya kita akan menguji apakah kewenangan yang dilakukan oleh Jaksa benar kita pra peradilkan. menguji kewenangan fungsi dan Jaksa ini apakah dia melakukan sesuai dengan fungsi sesuai aturan yang ada di Republik ini,” kata dia.

Ia menjelaskan, Majelis Hakim PN Jaktim memutuskan kliennya dihukum selama 7 tahun dan menyatakan kedua terdakwa ditahan dalam tahanan kota. Dikatakan lagi oleh Herwanto, ada beberapa poin penting yang diletakkan dibagian terakhir.

“Beliau dihukum 7 tahun, yang ketiga itu masa tahanan dipotong. Menyatakan para terdakwa ditahan di dalam tahanan kota. Ada dua putusan, nah tetapi tahanan kota itu ada di poin bawah. Tidak mungkin melaksanakan poin itu yang ada di atas yang terpenting poin itu dibawah,” ungkapnya.

Baca Juga : Kamis Siang Kuasa Hukum Pimpinan STT Setia Daftarkan Pra-Peradilan

Matheus Mangentang dan Ernawati Simbolon mendaftarkan Pra-Peradilan ke kantor Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) pada Kamis, 8 Agustus 2019 melalui tim hukumnya.

Dwi Putra Budiyanto SH menegaskan dalam perkara itu, dia menilai hanya terdapat kesalahan dalam bentuk administrasi dilembaga pendidikan STT Setia. Terlebih, kata dia, dengan menggunakan ijazah lulusan dari STT Setia alumni tersebut bisa masuk PNS.

“Ini hanya kesalahan administrasi semua ini kesalahan administrasi dia-kan awalnya sekolah agama karena kebutuhan yang lain maka orang banyak yang minta diluruskan sekolah pendidikan. Sebenarnya juga ada lulusan dari perguruan tinggi yang dipegang Pak Matius Mangentang ada beberapa yang lulus PNS dan ada juga beberapa yang ditolak. Sebelumnya menurut kami itu hanya kemelut didirinya sendiri,” terangnya, Jum’at (9/8/3019).

Selain itu, upaya hukum yang telah didaftarkan ke PTSP mendatang kata dia, diserahkan seluruhnya kepada pihak pengadilan dalam proses Pra-Peradilan terhadap kliennya.

“Jadi sepertinya apapun yang mereka lakukan ini tanda kutip apakah benar dari mereka atau ataupun diduga untuk kemauan orang lain. Biarlah pengadilan yang memutuskan kami mengajukan pra-peradilan,” ujarnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *