oleh

Respon KPAI Atas Kasus Prostitusi Melibatkan Anak di Tulung Agung

Jakarta, TribunAsia.com – KPAI sangat prihatin atas kasus yang menimpa 3 anak di Tulung agung korban human trafficking untuk tujuan Eksploitasi seksual disebuah café pantai Prigi Kab. Tulung Agung, bahkan salah satu diantaranya diduga menjadi korban perbudakan seks dengan mempekerjakannya dengan cara biadab.

KPAI mendesak pemerintah Prov Jatim dan Pemda Tulung Agung untuk segera memberikan layanan rehabilitasi dan penanganan pada korba baik secara fisik, kesehatan dan psikologis untuk memastikan kondisinya, Kamis (8/8/2019).

KPAI mengapresiasi itikad kepolisian untuk mengembangkan kasus ini dalam menjerat para pelaku yang sudah menggunakan jasa seksual dengan anak untuk mendapatkan hukuman.

Perlu diketahui, Indonesia sudah meratifikasi Protokol Opsional Konvensi Hak-Hak Anak yang diadopsi oleh majelis Umum PBB yang dituangkan dalam UU No 12 tahun 2010 tentang Larangan Penjualan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak sehingga perbuatan melacurkan anak adalah perbuatan yang ditentang dan diberantas diberbagai negara termasuk di Indonesia.

Untuk itu, KPAI juga mendorong eksploitasi seksual dalam perkara ini selaras dengan UU No 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) dan UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak yang lebih rinci menjerat pelaku penyedia prostitusi hingga menjerat pengguna jasa seks dengan anak.

Ai Maryati Solihah M.Si Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi melalui Siaran Pers, KPAI akan terus memantau pergerakan kasus ini, dan mendukung langkah-langkah kepolisian dalam mengungkap kasus.

KPAI mendorong LPSK untuk proaktif memberikan perlindungan pada anak korban sekaligus saksi ketika mengikuti proses hokum yang sedang dijalani untuk selanjutnya menjadi bagian dalam menjamin hak-hak korban. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *