oleh

Kamis Siang Kuasa Hukum Pimpinan STT Setia Daftarkan Pra-Peradilan

Jakarta, TribunAsia.com – Pimpinan STT Setia dieksekusi ke Rumah Tahanan Cipinang dan Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur Kamis siang, pihaknya melalui Kuasa Hukum mendaftarkan Pra-Peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim).

Kedatangan Herwanto SH ke kantor PTSP PN Jaktim tak lain ingin melayangkan Pra-Peradilan terhadap klienya Ernawati Simbolon dan Matheus Mangentang. Tim Kuasa Hukum kedua terpidana perkara ijazah palsu menyampaikan, kata dia, Jaksa tidak memiliki perintah untuk mengeksekusi Direktur dan Rektor pimpinan STT Setia itu.

“Sesuai dengan putusan, Jaksa tidak ada diperintahkan mengeksekuisi, Jaksa salah melaksanakan hukum. Ada poin 4 yang menyatakan bahwa para terdakwa tetap pada tahanan kota itu poin terakhir dalam putusannya,” ungkapnya, Kamis (8/8/2019).

Terlebih, kata tim kuasa Hukum, hal yang disayangkan kliennya dieksekusi ketika berada di rumah sakit dan kondisi Matheus Mangentang tengah diinfus. Bersama perwakilan dari keluarga kliennya, Herwanto SH dan Dwi Putra Budianto SH mendaftarkan Pra-Peradilan untuk menguji kewenangan yang mana telah dilakukan terhadap kliennya.

“Pra Peradilan ini dilakukan untuk menguji apakah kewenangan yang dilakukan oleh jaksa apakah sudah melakukan dengan aturan Undang-Undang yang berlaku di Republik Indonesia. Kami merasa ada yang disembunyikan oleh Jaksa, sehingga kami mendaftarkan pra-peradilan ini,” jelasnya.

Perlu diketahui, Matheus Mangentang lebih dahulu dieksekusi tepatnya pada Jum’at 2 Agustus 2019 lalu dan selang beberapa hari kedepan, Ernawati Simbolon kembali dieksekusi oleh pihak Kejari Jaktim pada Senin, 5 Agustus 2019 dan diserahkan ke Rutan Perempuan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Namun, Dwi Putra Budianto SH dalam kesempatan yang sama menambahkan, perkara tersebut berawal dari pelaporan sejumlah mahasiswa di STT Setia terhadap kliennya. Kata dia, mahasiswa setelah lulus dari STT Setia  kini diantara mereka berprofesi sebagai mengajar disekolah-sekolah yang terdapat dipedalaman Papua.

“Pelapornya murid-muridnya. Sebagai guru sekolah di pedalaman Papua,” ujar tim hukum. (Dw)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *