oleh

Buntut Sistem Baru, Pengantar Paket PT Pos Indonesia Mogok di Sumatera Barat

Padang, TribunAsia.com – Karyawan PT Pos Indonesia di Padang Sumatera Barat mogok mengantar paket. Kekecewa tersebut dilakukan karena pihak manajemen mengubah sistem rekruitmen tentang perjanjian kontrak kerja dalam waktu tertentu.

Wilman selaku pimpinan DPW SPPIKB Kepulauan Riau dan Padang Sumbar menjelaskan, terjadinya mogok O-Rangers (pick up service) dilatar belakangi karena kebijakan yang diterapkan oleh Direksi PT Pos Indonesia.

“Salah satu persoalan di PT Pos sekarang ini yang dulunya pengantar paket, O-Rangers dulu outsourcing sekarang diubah lagi menjadi PKWT kontrak kerja pada waktu tertentu. Kemudian dilakukan lagi program baru lagi dibuat oleh oleh perusahaan oleh Direksi para pengantar dan para petugas loket itu dijadikan mitra kerja,” jelas dia kepada TribunAsia.com, Rabu (7/8/2019).

(Foto : Istimewa)

Ia menambahkan, O-Rangers atau pengantar paket Pos yang mogok karena tidak terikat perjanjian kerja dan penghasilannya semakin berkurang. Dari kebijakan Direksi, kata Wilman para O-Ranger dijadikan mitra PT Pos Indonesia. Hal tersebut berdampak terlambatnya pengiriman paket kepada pelanggan.

“Semacam mitra kerja bukan lagi diikat oleh perjanjian kerja waktu tertentu seperti itu. Dengan program yang baru berjalan 1 bulan di daerah Sumbar dan Kepri. Terjadi permasalahan-permasalahan yang tidak bisa kita elakkan begitu,” tandasnya.

“Pada saat sekarang yang terjadi krusial itu bagian antaran para pengantar Pos. Jadi para pengantar pos itu dijadikan O-Rangers (pengantar) yang jadi permasalahan sekarang tidak sesuai sosialisasi yang dilakukan terhadap kantor regional dan KKP-nya (kepala kantor pos) misalnya dengan imbal jasa,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kata dia, O-Rangers atau pengantar paket yang biasanya memperoleh penghasilan Rp 30 ribu kini menurun dan menerima upah Rp 20 ribu dampak dari kebijakan manajemen PT Pos Indonesia. Aksi mogok serupa itupun akan dilakukan ditempat-tempat lainnya oleh petugas pengirim paket mulai dari Padang, Batam dan Riau.

“Yang semulanya Rp30.000 menjadi 20.000 dari atas sosialisasi sampai ke bawah. Bukittinggi terjadi para pengantar kemarin dan hari ini tidak diantar ke ke alamat. Kemudian di kantor Pos Padang ada nanti akan menyusul dari Batam dan Kepulauan Riau,” sebutnya.

Kepala Regional II Sumatera Barat, Wendi Bermana mengatakan, saat ini manajemen telah melakukan perubahan pola dan kini diterapkan sistem kemitraan. Sebelumnya, dia menyampaikan O-Rangers memperoleh pendapatan tetap perbulan dalam menjalankan tugasnya pelayanan pengiriman.

(Foto : Istimewa)

“Tapi tidak melanjutkan kemitraan. Selama ini untuk tenaga pelaksana ini sistemnya fee cost (imbalan) yang mana mereka mendapat beban banyak atau sedikit mereka menerima fix tiap bulannya. Kita merubah pola kemitraan namanya, jadi temen-temen dibayar sesuai dengan kinerja dia,” papar Kepala Regional II PT Pos Indonesia.

Wendi menegaskan, mendatang akan dilakukan sistem serupa dengan sistem Gojek. Maka, kata dia, bila sistem itu berjalan penghasilan karyawan sesuai dengan tingkat kinerjanya. Selain itu, Kepala Regional II Sumbar menguraikan kini pihaknya tidak memiliki perjanjian kerja terhadap jasa pengirim paket yang tidak ingin bergabung didalam sistem kemitraan.

“Kinerjanya bagus dia akan mendapat lebih banyak itungannya kayak temen-temen driver Gojek. Kalau dia rajin menerima panggilan nerima orderan dia kan terima banyak. Kita tidak ada perjanjian kerja hanya kemitraan saja. Kita masih punya tenaga organik pegawai tetap itu yang menangani,” ungkapnya dalam sambungan seluler. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *