oleh

Politik Nasi Goren Megawati

TribunAsia.com

Oleh : Tendri

Pertemuaan Prabowo dan Megawati merubah peta koalisi. Perebutan kursi menteri semakin seru.

Kursi Jaksa Agung jadi rebutan. Nasdem menginginkan kembali kursi jaksa agung.

Hasil evaluasi PDI P, hanya mereka yang sungguh- sungguh dalam memenangkan Jokowi.

Sementara partai- partai koalisi Jokowi lainnya lebih mengutamakan kemenangannya di legeslatif.

Setelah Jokowi menang semua partai koalisi Jokowi berlomba menyodorkan nama untuk memperebutkan kursi menteri.

PDI P menginginkan Jaksa Agung, Mahkamah Agung dan Kapolri adalah orang pilihan PDI P, walau orangnya dari internal lembaga tersebut.

PDI P dan partai- partai lain mempunyai catatan untuk kader partainya dengan jaksa agung selama ini. Banyak kepala daerah yang pindah ke partai Nasdem setelah dapat surat merah dari kejaksaan.

Kurang seriusnya berjuang dan tidak kuatnya kepemimpinan ketua partai.

Akhirnya Megawati mengambil langkah berkoalisi dengan Prabowo.

Prabowo adalah pemilik partai Gerindra, semuanya dibawah komando Prabowo. Sama  kondisinya dengan PDI P, keputusan terakhir partai ada ditangan Megawati.

Berkoalisi dengan Prabowo juga untuk menyatukan kembali rakyat yang terbelah akibat pemilihan presiden. Dan untuk mendekati pemilih Islam.

Dengan kemenangan Jokowi yang hanya 55,50 % dan kekalahan Ahok di pilkada DKI, Megawati mulai menyadari bahwa politik identitas itu memang timbul dan menguat.

Tidak mungkin melupakan pemilih Islam kalau Megawati ingin menyiapkan karpet merah buat anaknya Pranada prabowo di suksesi 2024.

Kalau Megawati mau membuka lembaran sejarah, bapaknya Bung Karno lebih banyak berkoalisi dengan partai Masyumi ( partai Islam) dalam memimpin Republik ini. Kakeknya Hasan Din dari pihak ibunya adalah tokoh Muhammadiyah Bengkulu.

Tidak sulit buat Megawati untuk kembali ke lingkungan umat Islam, karena habitatnya keluarga Megawati adalah Muhammadiyah.

Tapi selama ini memang kelompok nasionalis, kelompok kristen, pengagum Soekarno dan sisa keturunan keluarga komunis yang menopang PDI P.

Setelah Taufik Kemas meninggal dunia kelompok Islam banyak terpinggirkan di kepengurusan PDI P.

Ditambah ada kekuatan global yang membenturkan Megawati dengan kelompok Islam.

Issu khilafah adalah jualan usang untuk menyingkirkan kelompok Islam. Persoalan piagam Jakarta telah selesai dengan kelompok Islam menerima Pancasila.

Piagam Jakarta ini tidak akan terbangun dari tidurnya kalau keadilan, kesejahteraan rakyat dan kesetaraan dimuka hukum di Republik ini terwujud.

Kelompok Islam tidak berkeinginan memperjuangkan pemerintahan khilafah.

Yang diperjuangkan adalah keadilan, ekonomi syariah dan hukum syariah.

Tidak berlebihan kalau kinginan ini timbul karena  ekonomi  kapitalis gagal.  Ekonomi kapitalis hanya membuat pemilik modal dan negara kapitalis semakin kaya.

Sementara hukum  pidana peninggalan Belanda di bidang korupsi, narkoba, pencurian dan pemerkosaan tidak membuat efek jera.

Tidak salah kalau kita menengok dan mempelajari hukum Islam yang mempunyai efek sosial sehingga menimbulkan efek jera.

Di pertemuan Prabowo dengan Jokowi dan Prabowo dengan Megawati, Megawati ingin menunjukan bahwa yang punya kemampuan melobby Prabowo adalah Budi Gunawan.

Megawati  ingin mengecilkan peran Luhut Binsar Panjaitan, PDI P punya catatan besarnya pengaruh dan sepak terjang Luhut.

Megawati mencium.adanya gerakan lingkaraan istana untuk menjadikan Jokowi ketua umum PDI P.

Megawati pun mencium gerakan para Jenderal di lingkaraan Istana. Ada yang ingin mencalonkan diri di pilpres 2024. Ada  juga jenderal yang ingin mencalonkan menantunya.

Untuk menghadapi ini Megawati telah menyusun strateginya. Megawati menginginkan kerja sama Jokowi.

Kemungkinan besar Jokowi akan mengikuti kemauan Megawati. Sebagai orang Jawa tidak mungkin Jokowi akan membangkang.

Apalagi Jokowi telah menikmati kebaikan hati Megawati di politik selama ini.

Ditambah Jokowi juga harus memikirkan karir politik anak-anaknya. PDI P adalah rumah yang nyaman untuk anak- anaknya.

Pilihan berkoalisi dengan Prabowo sahabat lamanya lebih menguntungkan dan pilihan yang tepat untuk politik sekarang dan pilpres 2024.

Gerindra kemungkinan besar akan mendapatkan dua kursi menteri dan ketua MPR ( Majelis Permusyawaratan Rakyat).

Inilah politik nasi goreng anak salah satu pendiri Republik ini, yang kian hari kian lincah dan matang  mengaduk perpolitikan Indonesia di kuali yang panas.

Dia Piawai dan semakin cerdas, dia yakin dengan pilihan hatinya. Dia tinggal memilih bumbu mana yang harus dibuang dan bumbu baru mana yang harus dimasukan, sehingga membuat nasi goreng semakin enak.

Dia tidak tergantung dengan para tokoh politik lain. Dia hanya bergantung dengan rakyat, terutama pemilih Islam yang dibutuhkan untuk pemilihan presiden 2024.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *