oleh

Dua Perkara yang Menyelamatkan Seorang Hamba

Jakarta, TribunAsia.com – Kehidupan dunia bersifat sementara, akhirat adalah tempat kembali yang kekal, semua hamba Allah ingin selamat di akhirat, ada dua perkara penting yang bisa menyelamatkan seorang hamba di yaumul akhir, dua perkara itu adalah menjaga ketauhidan dan berbakti kepada kedua orang tua, demikian dipaparkan Khatib Jum’at Mesjid Al Hidayah Kembangan Jakarta Barat.

Tauhid merupakan inti Islam, tidak mungkin sempurna keislaman seorang hamba tanpa memperhatikan dan menjaga tauhidnya dengan baik, dalam kehidupan sehari-hari banyak manusia lalai, tak jarang dari mereka merasa jumawa dengan amal ibadah yang dilakukannya padahal hakikatnya ia tidak menjaga tauhidnya dengan baik.

“Ambil contoh perkara syirik yang merusak ketauhidan, banyak orang sholat dan mengajinya rajin namun tanpa sadar sering terjerumus ke dalam kesyirikan, berhati-hatilah” jelasnya di hadapan jamaah, Jum’at (2/8).

Perkara kedua adalah berbakti kepada kedua orang tua. Di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang nabi meminta kepada sahabat lain agar mencontohnya karena pengorbanannya yang luar biasa dalam merawat ibunya.

“Orang itu adalah Uwais Al Qarni, Uwais memiliki ibu yang buta dan tidak sehat lagi, Uwais begitu teguh merawat ibunya, semua dia lakukan demi menjaga ibunya” katanya.

Uwais adalah seorang pemuda yang tinggal di Yaman, ia sangat ingin berjumpa dengan Rasulullah, niatnya itu mendapat restu dari ibunya dengan catatan Uwais bertemu Rasulullah sebentar saja.

“Uwais pun berangkat dari Yaman menuju Madinah, menempuh jarak yang amat jauh dengan perbekalan pas-pasan” sambungnya.

Sebab bekal terlalu sedikit sementara jarak tempuh sangat jauh akhirnya Uwais pingsan di tengah perjalanan, beruntung ada sahabat yang lewat dan menolong lalu membawanya ke Madinah.

“Saat Uwais tersadar ia langsung menanyakan kemana Rasulullah, para sahabat menjawab Nabi sedang keluar mengatur strategi perang, saat itu memang merupakan masa rawan peperangan sehingga umat Islam harus selalu bersiap-siap” terangnya.

Menyadari hal itu Uwais pun paham ia tidak bisa bertemu Rasulullah, maka ia langsung kembali ke Yaman karena teringat pesan ibunya agar tidak berlama-lama.

Paling berkesan dari pengabdian Uwais, suatu waktu ibunya meminta ingin naik haji, sontak Uwais terkaget, bagaimana tidak jarak tempuh ke Makkah sungguh jauh sementara sang ibu tidak bisa berjalan normal, namun bagi Uwais tidak ada pilihan untuk menolak permintaan ibunya, Uwais akhirnya memutuskan menggendong ibunya menuju Makkah, sebuah pengabdian yang luar biasa.

“Uwais memulai rencananya dengan membiasakan diri, setiap hari ia mengendong dombanya menuju bukit, hal itu terus dilakukan hingga domba itu besar, tubuhnya kemudian kekar dan dengan modal latihan itu Uwais mampu menggendong ibunya menuju Makkah untuk menunaikan haji” tutupnya.

Penting bagi semua manusia mengambil hikmah dari pengabdian Uwais kepada orang tuanya, bahwa pengabdian kepada orang tua tidak mengenal batas, sebesar apapun pengorbanan anak kepada orang tuanya tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan orang tua dalam merawat dan membesarkan anaknya. (ZNR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *