oleh

Pelatihan AGD Dompet Dhuafa se-Jawa Barat Bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia

Bekasi, TribunAsia.com – Pelatihan Ambulance Gawat Darurat (AGD) yang diselenggarakan oleh Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa se-Jawa Barat bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI).

Diketahui, pelatihan tersebut berlangsung kemarin, pada Selasa 31 Juli 2019 di Aula Multazam Gedung Islamic Centre Bekasi, Jawa Barat. Muhammad Faisal S.Kep selaku ketua panitia pelaksana menyampaikan, sebanyak 37 peserta dari berbagai instansi berkumpul mengikuti pelatihan itu.

“Sebanyak 37 peserta mengikuti pelatihan ini dengan peserta dari berbagai Instansi antara lain Layanan Ambulance Gratis Taman Rizky, Layanan Ambulance Gratis Al-umahat, STIKes Jayakarta, RS Ananda, Baznas, Baitul Maal itQan, Pramuka Peduli Kwarcab Kota Bekasi, RS Awal Bros Bekasi, Barzah Dompet Dhuafa, UPTD PSC 119 Kabupaten Bekasi, Akademi Komunitas Nusantara, Pos Sehat Baitul Maqdis, Gojek Indonesia, DKM Huda Ibrahim, Cahaya Foundation dan Emergensi Respone Resque,” ungkap Faisal kepada TribunAsia.com, Kamis (1/8/2019).

Dijelaskan dia, untuk materi yang disampaikan kepada para peserta pelatihan saat itu dipimpin langsung oleh M. N. Awaluddin A., M. Kesos (Direktur Disaster Management/DMC Dompet Dhuafa). Terlebih, pemberi materi menjelaskan kondisi darurat serta paska terjadinya bencana alam.

“Direktur Disaster Management/DMC Dompet Dhuafa menyampaikan tentang sejarah DMC, respon-respon yang dilakukan DMC saat tanggap darurat dan pasca bencana, dan sekilas tentang komunitas Ayo Tolong,” tandasnya.

Kemudian, Eka Wulan Cahyasari, SKM. MSi sebagai Divisi Kesehatan dan Sosial Markas Palang Merah Indonesia (PMI), menyampaikan tentang pelayanan ambulance. Masih kata dia, terbagi menjadi beberapa fungsi dan kegunaan diantaranya diperuntukkan sebagai transportasi, gawat darurat maupun maupun sebagai pelayanan mengantarkan jenazah.

“Pelayan Ambulance dibagi menjadi tiga, yaitu ambulance transportasi, ambulance gawat darurat, dan mobil jenazah. Dari ketiga pelayanan ambulance tersebut memiliki spesifikasi mobil yang berbeda,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dihadiri Genaral Manager Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa Philantropy. Lebih lanjut, Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) turut menyampaikan tentang evakuasi dan transportasi ambulans merupakan bagian tidak terpisahkan dalam penanganan korban.

Menurut Faisal, Akhmad Furqonudin, S. Kep., Ners dari (HIPGABI) mengutarakan jika salah penanganan bisa berakibat fatal bagi korban maupun penolong. Hal itu pun sempat dikatakan dalam pelatihan 5 pertimbangan ini disimulasikan saat pelatihan AGD.

“Proses evakuasi dan transportasi merupakan bagian tidak terpisahkan dalam penanganan korban. Salah penanganan bisa berakibat fatal bagi korban maupun penolong. Maka, saat sesuatu terjadi, lima hal yang harus dipertimbangkan, diantaranya situasi, kondisi korban, kemampuan mengangkat, teknik, dan alat yang tersedia,” tegasnya.

Sementara, dr. Asturi Putri, MARS dari Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) menambahkan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD). Ia berharap dari pelatihan Ambulance Gawat Darurat dapat disosialisasikan kepada masyarakat luas.

“BHD adalah usaha untuk menyelamatkan nyawa korban yang mengalami henti jantung dan henti nafas. Maka, jika hal ini terjadi disekitar anda, apa yang harus dilakukan. Dalam pelatihan AGD ini disampaikan step by step mengatasi hal tersebut,” tuturnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *