oleh

Kebebasan Sipil Kian Mengkhawatirkan

TribunAsia.com

Oleh : Zaenal Abidin Riam (Koordinator Presidium Demokrasiana Institute)

Demokrasi yang sehat meniscayakan kebebasan berpendapat bagi warganya, tidak pernah ada sejarah demokrasi di sebuah negara mampu berdiri kokoh di atas pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat, justru yang sering terjadi dalam lintasan sejarah, saat penguasa menyumbat mulut rakyatnya untuk berbicara, maka negara tersebut sedang menuju lorong gelap otoritarianisme, bencana demokrasi yang sangat mengerikan. Indonesia pernah berada dalam masa otoritarianisme selama tiga puluh dua tahun, periode tersebut merupakan masa kelam demokrasi, masa saat kritikan terhadap penguasa dihadapi dengan senjata dan pemenjaraan, memori kelam tersebut masih tersimpan rapi di benak rakyat sebagai ingatan kolektif yang sungguh mengerikan.

Belum berselang beberapa lama Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil Indeks Demokrasi Indonesia, ada hal mengkhawatirkan yang terjadi di sana, kebebasan sipil mengalami penurunan sebesar 0,29 poin, dari 78,75 menjadi 78,46. Penurunan ini mengkonfirmasi kepada rakyat Indonesia bahwa kebebasan sipil termasuk kebebasan berpendapat didalamnya sedang dalam posisi terancam, sajian angka tersebut tidak mungkin merupakan hasil rekayasa, BPS adalah lembaga resmi negara yang sangat kredibel.

Apa yang disampaikan BPS sesuai dengan fakta di lapangan, bila diamati secara seksama, periode pertama pemerintahan Jokowi tidak ramah terhadap kebebasan sipil, ada indikasi gaya orba coba dihidupkan kembali, hal ini bisa dilihat dari gaya pemerintah menghadapi kritik rakyatnya, cara yang dipakai bukan pendekatan dialog, melainkan pendekatan represif yang berujung “kriminalisasi”. Deretan tokoh kritis hingga masyarakat yang ditangkap dengan dalih ujaran kebencian merupakan fakta tak terbantahkan, situasi menjadi semakin runyam karena oknum pembela kekuasaan yang terang melakukan ujaran kebencian justru sama sekali tak tersentuh, mereka menjadi kelompok minoritas kebal hukum, rasa keadilan tercoreng, pisau hukum mendadak tumpul, satu lagi parodi konyol yang menandakan demokrasi kita sedang sangat bermasalah.

Meneriakkan anti radikalisme sambil memberangus kebebasan berpendapat merupakan hal lucu sekaligus memalukan, bukankah ciri utama radikalisme adalah merasa diri paling benar, itulah mengapa kelompok radikal selalu bersifat tertutup dari kritik. Memberangus kebebasan berpendapat sama halnya merasa diri paling benar, dan bila penguasa melakukan itu berarti mereka juga sudah terjatuh ke dalam jurang radikalisme, ini ibarat menepuk air lalu terpercik ke muka sendiri. Perlu kesadaran semua pihak termasuk penguasa yang memerintah bahwa Indonesia merupakan negara yang susah payah merengkuh demokrasi, rakyat negeri ini harus berjuang puluhan tahun hanya untuk merengkuh manisnya demokrasi, ada korban berjatuhan, mulai dari yang dipenjara hingga usia tuanya sampai mereka yang terus ditangisi hingga hari ini karena hilang tanpa jejak. Hargailah perjuangan itu karena pemerintah adalah pelayan rakyat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *