oleh

Soetrisno Bachir Ajak Kader Muhammadiyah Gerakan Ekonomi Umat

Jakarta, TribunAsia.com – Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Soetrisno Bachir meminta kaum muda kader Muhammadiyah agar mengubah pola pikir (mindset) lama mereka yang masih dominan berkutat di ranah politik ketimbang ekonomi.

Menurutnya, tantangan baru KEIN adalah mengubah mindset lama Muhammadiyah yang menyebutkan bahwa kegiatan ekonomi iu tidak cocok. “Itu sudah tidak tepat lagi,” kata Soetrisno Bachir usai seminar dan workshop Kemitraan Ekonomi Umat yang diselenggarakan PP Pemuda Muhammadiyah di Jakarta.

Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengatakan, Muhammadiyah sempat memiliki kegiatan ekonomi seperti bank perserikatan dan di bidang trading, namun mengalami kegagalan. Hal inilah yang seolah menciptakan mindset jika Muhammadiyah tidak cocok bergerak di bidang ekonomi.

“Di Muktamar tiga tahun lalu sebenarnya sudah memutuskan ada gerakan pilar ketiga selain pendidikan dan kesehatan. Tapi keputusan itu belum menjadi way of life (jalan hidup) di Muhammadiyah,” paparnya.

Oleh karena itu, pria yang karib disapa SB Itu selalu berbicara di depan anak muda kader Muhammadiyah yang biasanya beraktivitas di bidang politik agar mulai beralih ke bidang ekonomi. “Minimal separuh-separuh. Kenapa begitu? Politik itu dinamis, bisa berubah-ubah. Tapi kalau ekonomi itu pasti. Yang penting tekun, sabar dan ulet,” ujarnya.

Saat ini Muhammadiyah sudah memiliki jaringan di seluruh Indonesia bahkan hingga level internasional. Sehingga tak sulit bagi Muhammadiyah untuk melakukan gerakan ekonomi. “(Perubahan mindset) ini yang harus terjadi di internal generasi muda Muhammadiyah. Harus berubah mindset-nya,”ungkapnya.

Sedangkan untuk eksternal, KEIN sendiri sudah memiliki ‘peta’ untuk mendorong Indonesia maju di bidang ekonomi. “Kita harus fokus pada empat sektor SDA dan SDM yakni agrobisnis, bisnis maritim, bisnis pariwisata dan ekonomi kreatif,” beber SB.

Ia juga menambahkan, industrialisasi harus menciptakan nilai tambah atas komoditas utama. Untuk memperkuat industri bisa dilakukan dengan dua orientasi.

“Pertama, substitusi impor dengan tujuan mengurangi ketergantungan dari negara lain. Kedua, industri harus diarahkan pada orientasi ekspor sehingga industri bisa memberikan kontribusi positif pada neraca perdagangan,” jelasnya.

Oleh karenanya, lanjut SB, dibutuhkan harmonisasi yang kuat dan terukur antara kebijakan perdagangan dan industri. “Di aspek ini, harmonisasi kebijakan harus diperkuat,” pungkas SB. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *