oleh

Peringati Hari Sungai Nasional Adakan Rembug Membangun Peradaban Manusia

Jakarta, TribunAsia.com – Peringati Hari Sungai Nasional pegiat lingkungan adakan rembug sungai membangun peradaban manusia di Padepokan Ciliwung, Condet, Jakarta Timur. Dalam rembug tersebut melibatkan berbagai elemen yakni, Komunitas Ciliwung, Jarak Saling, P3I, IPP, Yayasan Param, Komite Advokasi Penyandang Disabilitas Indonesia (KADI), dan KLHK.

(Foto : TribunAsia.com/Didi Wijayanto)

Ahmad Maulana mengatakan, melalui lingkungan tentunya banyak potensi yang dapat digali terutama kebudayaan yang berada di Jakarta atau Betawi. Terlebih, dia pun menjelaskan, banyak penafsiran yang beragam terkait tentang budaya hingga berinisiatif membangun padepokan di lokasi bantaran sungai Ciliwung untuk melestarikan alam.

(Foto : TribunAsia.com/Didi Wijayanto)

“Banyak budaya Betawi yang bisa hidup lagi. Tertarik dengan lingkungan banyak orang salah tafsir, budaya ini ternyata cukup luas bagaimana kita bisa mencintai alam. Disini kita baru paham akar sebuah permasalahan hidup, kita namakan padepokan,” kata dia yang akrab disapa Lantur, Senin (29/7/2019).

Agus Supriyanto (kiri) dan Ahmad Maulana (kanan). (Foto : TribunAsia.com/Didi Wijayanto)

Menurut dia, jika daerah aliran sungai diabaikan diperkirakan mendatang masyarakat akan merasakan kesulitan. Selain itu, sungai Ciliwung juga menjadi sarana transportasi air pada zaman Tarumanegara dan fakta tersebut dikuatkan dengan prasasti kerjaan Hindu dimasa lampau.

Termasuk, kata Lantur di sekitar bantaran sungai Ciliwung terdapat makam-makam kuno kerajaan yang mendarat di sekitar aliran sungai Ciliwung.

(Foto : TribunAsia.com/Didi Wijayanto)

“Ciliwung diabaikan karena aliran sungai suatu saat akan kesulitan. Berapa komunitas peduli lingkungan, hanya Condet-lah yang punya banyak makam siapakah para Datuk itu yang kisah arkeolog itu dari zaman Tarumanegara itu bentuk prasasti dari kerajaan Hindu,” ungkapnya.

Kendati demikian, Ir. Suryo Albar ST, MM, IPM memaparkan terkait naturalisasi sungai Ciliwung dan mempersentasikan kepada peserta aktivis lingkungan.

Ir. Suryo Albar ST, MM, IPM (Foto : TribunAsia.com/Didi Wijayanto)

Suryo pun mendefinisikan terkait lingkungan tentang menejemen tata kelola sungai dengan cara memulihkan proses alami sungai baik habitat maupun ekosistem sungai. Bahkan, dia merinci bentuk dan alur sungai serta mekanisme perpindahan sedimen termasuk endapan sungai.

“Saya kira kita bisa belajar bersama, saya kebetulan teknik sipil dan lulusan dari UGM,” jelas Institute for Jakarta River Restoration (IJRR).

(Foto : TribunAsia.com/Didi Wijayanto)

Dari keterangan itu, dia juga menyampaikan adanya harmoni interaksi antara manusia dan sungai sehingga tercipta maksimalisasi fungsi sungai, pengendalian banjir serta perbaikan kualitas air sungai.

Lantas, pria yang bergelar Insinyur itu juga merinci tujuan sungai yang dapat dijadikan sarana rekreasi, migrasi ikan, paru-paru kota dan sarana edukasi bagi masyarakat. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *