oleh

Dibalik Tabir Politik Pancasila yang Agung

TribunAsia.com

Oleh : Samianto (Jurnalis)

Kejaksaan Negeri Jakarta Timur - ZONA INTEGRITAS (Wilayah Bebas Korupsi)

Momentum pertemuan silaturrahim dua tokoh bangsa yang terjadi kemarin antara Prabowo dan Mega dinilai banyak kalangan. Beragam penilaian positif negatif bermunculan bagaikan bunga yang tumbuh semerbak di musim hujan. Ini tentu membawa angin segar perpolitikan yang sangat mendewasakan para pendukung masing-masing. Dimana kompetisi bagaimana pun sengitnya berbeda  pandangan  dan pilihan adalah anugerah. Asal selalu dimaknai dengan bijak dengan semangat gotong royong dan kebersamaan. Akhir dari pertarungan, ketika sudah selesai semua berjabat tangan dan kembali bergandengan inilah semangat gotong royong yang menjadi nafas demokrasi Pancasila sebagai landasan pijak.

Kebesaran dan keharmonisan berbangsa bernegara ketika tokoh-tokoh bangsa mampu memberikan suri tauladan kepada rakyat dan pendukungnya, akan mampu melahirkan keutuhan sebuah bangsa yang akan melahirkan peradaban kemanusiaan yang dapat menginspirasi negara bangsa di dunia. Yang pada gilirannya akan menciptakan perdamaian abadi menuju keadilan sosial. Semua harapan dan cita bangsa akan mudah terwujud manakala para elit politik dan tokoh negeri mampu berdiri tegak memberikan suri tauladan untuk rakyat dan pendukungnya.

Indonesia adalah negara besar kaya dengan sumber alam, jumlah penduduk, beranekaragam budaya, etnis, bahasa, adat istiadat, agama. Indonesia adalah miniatur jagat dengan segala macam keanekaragaman penduduknya yang disatukan oleh Pancasila sebagai pondasi yang monumental. Jika kita bandingkan dengan Timur Tengah mereka satu rumpun dipikul banyak negara, begitupun juga dengan Eropa satu rumpun dipikul banyak negara. Sementara kita Indonesia ribuan pulau berbeda etnis, agama, budaya, dipikul satu negara yang bernama NKRI. Inilah kehebatan dan kebesaran kita Indonesia.

Pertemuan kedua tokoh bangsa mengisyaratkan kepada semua rakyat sekeras apapun pertarungan, perbedaan pandangan itu semua hanyalah permainan politik, yang tatkala sudah berakhir dilanjutkan kembali berjabat tangan. Sebagaimana lokomotif kereta yang di dalam satu koalisi bersama seirama mendukung laju pemerintah sebaliknya yang di luar gerbong koalisi tetap menjadi pendorong atas kemajuan pemerintah dan sebagai mengingat dikala salah jalur ataupun arah. Berada di dalam pemerintah maupun oposisi sama sama mulia. Dalam rangka membangun Indonesia Adil Makmur.

Inilah sumber kearifan dan kebudayaan yang harus kita jaga dilestarikan untuk kehidupan yang lebih bermartabat. Pertemuan nostalgia di Jalan Teku Umar antara Prabowo dan Mega adalah pembuktian kebesaran jiwa para tokoh bangsa maupun partai berkomitmen menjaga Pancasila dan memberikan suri tauladan bagi para pendukungnya. Kita semua rakyat kecil mengapresiasi pertemuan ini, sebagai jalan tengah merajut khatulistiwa untuk menjawab bahwa NKRI adalah harga mati tidak ada ruang untuk mereka kaum radikalisme yang masih tidak sepakat atas rekonsiliasi yang masih menyebarkan fitnah Hoax propaganda agar segera kembali ke ajaran Pancasila yang penuh cinta damai. Stop tebar Hoax mari hidup penuh damai.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *