oleh

Jokowi dan Prabowo

TribunAsia.com

Oleh : Tendri

Pertemuan Jokowi dan Prabowo di MRT masih jadi pembicaraan hangat di publik. Ada pihak yang menyambutnya positif dan ada yang tersenyum malu memandangnya.

Jokowi memang menginginkan pertemuan ini, karena Jokowi nyaman dengan gaya kepemimpinan dukungan bulat dari banyak  partai. Begitupun Prabowo butuh akan pertemuan ini.

Pertemuan dengan Prabowo dibutuhkan sebagai legitimasi tambahan untuk menghilangkan tuduhan issu curang dalam pemilihan presiden yang telah kita lakukan.

Sebenarnya kalau bukan soal kenyamanan kepemimpinan, Jokowi tidak membutuhkan pertemuaan ini. Karena Kekuatan Jokowi dan partai pendukungnya di DPR  lebih 60%. Bagusnya Jokowi menghidupkan oposisi di alam demokrasi.

Pertemuan dengan Prabowo yang tadinya diharapkan bisa membawa gerbong pendukung Prabowo, untuk mendukung Jokowi demi persatuan bangsa tidak terjadi.

Prabowo tidak bisa mempengaruhi pengikutnya, Jokowi hanya mendapatkan Prabowo dan partai Gerindra.

Pendukung Prabowo bukanlah pengikut fanatik Prabowo. Perkawanan Prabowo dan pengikutnya adalah pertemuan kesamaan kepentingan di simpang jalan. Saat Kepentingan Prabowo berubah dan berbeda dengan pengikutnya, maka Prabowo akan ditinggalkan Pengikutnya.

Seharusnya kalau untuk mendapatkan dukungan rakyat yang tidak memilihnya, Jokowi datang saja ke rakyatnya.

Bicara langsung dengan rakyat. Apa yang selama ini dikritik  seperti :  masalah utang luar negeri, tenaga kerja asing,  kriminalisasi ulama, daya beli  rakyat, listrik murah dan bahan pokok murah akan dibenahi.

Pemilih Prabowo harus memaklumi keputusan Prabowo, karena partai perlu dana yang tidak kecil untuk menjalankannya mesin partainya.

Partai PAN yg baru beroposisi 10 bulan di tahun 2019, sudah sesak nafas kata sekjennya Eddy Suparno.

Koalisi bagi-bagi, seperti : bagi-bagi  kursi menteri, bagi-bagi perangkat kelengkapan  di DPR,  bagi-bagi duta besar, bagi-bagi komisaris BUMN, bagi-bagi proyek dan kue di dunia bisnis sangat dibutuhkan demi kelangsungan hidup partai.

Bahkan partai koalisi pendukung jokowi dan partai pendukung prabowo tidak lagi malu-malu memperebutkan kursi menteri, perangkat kelengkapan DPR dan kursi ketua dan wakil ketua MPR ( Majelis Permusyawaratan Rakyat ) di depan publik.

Rakyat Indonesia harus menyadari bahwa berpolitik di Indonesia masih sebatas isi perut, masih sebatas bargaining kekuasaan dan bagi-bagi kue-kue ekonomi.

Berpolitik  di Zaman reformasi adalah pekerjaan baru diluar pegawai negeri sipil.

Orang-orang berlomba melakukan money politik untuk duduk sebagai  anggota DPRD, DPR RI, DPD dan kepala daerah. Tidak sedikit yang masuk rumah sakit jiwa, gila karena uang sudah banyak habis sementara kalah dalam pemilihan.

Harusnya berpolitik adalah ladang mengabdi pada rakyat dan cinta pada negara, kalaupun ada materi, itu adalah materi mengiringi prestasi.

Emak-emak pendukung Prabowo tidak perlu kecil hati ditinggalkan Prabowo. Memang setiap pemilu rakyat hanya dijadikan sebagai ganjal batu. Apalagi kepentingan  emak-emak dan rakyat telah berbeda dengan kepentingan Prabowo.

Kepentingan Prabowo menjaga kelangsungan hidup partainya. Sementara kepentingan  emak-emak adalah : kelangsungan hidup anaknya, bisa dapat gizi yang baik, biaya kesehatan gratis, harga sembako murah, listrik murah dan biaya pendidikan murah.

Apalagi Prabowo melihat partai Demokrat dan PAN sudah melompat dari perahu koalisi Prabowo, mulai mengejar untuk ikut dalam koalisi Jokowi.

Tidak efisien kalau berjuang hanya berdua dengan PKS.

Pengorbanan rakyat tidak hanya tenaga dan uang, bahkan nyawa pun melayang untuk perjuangan.

Pengorbanan itu tidak ada harganya di depan mata elite politik.

Elite politik bertingkah pola bak tuan tanah, tidak punya malu, tidak punya harga diri, tidak punya tanggung jawab moral kepada rakyatnya.

Untuk menghadapi para politikus seperti ini, rakyat harus bersatu. Rakyat  menyatakan diri sebagai oposisi, karena negara ini punya rakyat dan bukan milik orang orang partai.

Rakyat harus berjuang dengan kekuatannya sendiri. Jangan lagi berharap bantuan pada mahasiswa, pers dan partai.

Ini negara ha ha hi hi kata Gus Mus dalam puisinya. Tidak mungkin kita berharap dengan orang orang yang suka ber ha ha hi hi diatas penderitaan dan kesengsaraan rakyatnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *