oleh

Sekjen KAI Nyatakan Prihatin Atas Pemerosotan Etika Advokat Pukul Hakim Saat Sidang Perdata

Jakarta, TribunAsia.com – Sekretaris Jenderal Kongres Advokat Indonesia (Sekjen KAI), Heytman Jansen PS, SH menyatakan bahwa sangat prihatin dan  telah terjadi saat ini pemerosotan etika atas seorang profesi Advokat dengan terjadinya pemukulan oleh seorang Advokat terhadap Majelis Hakim dalam persidanngan saat membacaka putusan yang terjadi Kamis petang (18/7) di PN Jakarta Pusat.

Terlebih, kata dia, selayaknya seorang Advokat dapat menjaga sikap dan etikanya dalam persidangan apalagi sampai memukul Hakim dengan ikat pinggangnya, ada apa dengan pribadi Advokat tersebut.

“Sebagaimana emosinya dan kecewanya advokat dalam menerima hasil dari sebuah putusan tidaklah dibenarkan untuk melakukan tindakan yang bersifat arogan,” sebutnya.

Perlu diketahui, penyerangan yang terjadi ketika persidangan digelar, perkara itu sendiri tercatat dengan Nomor Registrasi 223/Pdt.G/2018/PN Jkt.Pst. Kata Jansen, perkara perdata sebagai Penggugat dengan kliennya bernama Tomy Winata didaftarkan ke PN Jakpus pada tanggal 17 April 2018  dan tidak menerima atas putusan Majelis Hakim di Ruang Subekti.

“Perkara tersebut terkait wanprestasi. Adapun, pihak penggugat merupakan Tomy Winata, dengan Desrizal sebagai kuasa hukum,” kata Sekjen KAI kepada TribunAsia.com, Senin (22/7/2019).

Ia menjelaskan, seorang Advokat harus dapat bertindak profesional dan menjaga prilakunya dalam suatau persidangan serta harus tunduk terhadap tata tertib persidangan. Kemudian, Jansen mengutarakan, sudah selayaknya moral dan etika seorang Advokat mulai ditegakkan melalui Organisasi Advokat masing-masing.

“Dimana advokat tersebut terdaftar menjadi anggotanya dan atau sejak mulai penerimaan advokat dari awal telah ditatanamkan moral dan etika dalam menjalankan profesi, dimana pada dasarnya telah diajarkan melalu etika profesi yang dibekali pada saat PKPA,” ungkapnya.

Terhadap kejadian pemukulan tersebut, menurutnya layak dilakukan penegakan hukum atas perbuatannya dan etika profesi terhadap profesinya sebagai advokat.

“Saya berharap hal ini segera ditindak untuk menjadi contoh dan pelajaran peneggakan etika profesi kepada para Advokat dan semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi,” tegasnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *