oleh

Curhat Penderita HIV-AIDS di Depok

Depok, TribunAsia.com – Tak dapat dielak tentang adanya para-orang dengan HIV-AIDS (odha) di Kota Depok. Jumlah odha lumayan banyak walau tak terdata dengan pasti di Dinkes Kota Depok. Disebutkan seorang pejabat Dinkes Kota Depok Agus Ghozali, tidak dapat dipastikan berapa odha yang didata. Namun dari estimasi Kemenkes ada sekira 90 orang, dari kanak-kanak, remaja, dan dewasa lelaki dan perempuan, dan transgender.

Berikut ini laporan TribunAsia, Senin (22/7) dari pengakuan tiga wanita yang beraktivitas di kalangan seks komersial dengan pelbagai sebab alasannya. Namun, eloknya mareak ini sudah punya kesadaran asepsi seksual secara aman dengan  penggunaan kondom kepada teman kencannya secara disiplin. Diyakini, penggunaan kondom ketika beraktivitas seksual adalah cara yang aman selain, kesediaan jalani uji kesehatan seksual.

Mareka juga aktif menjalin asesoritas dengan asesor penanggulangan HIV-AIDS yaitu, civil society organization (CSO) diantaranya ACS Depok, KDS Hitam Putih, Kuldesak, Humakita, KDS Warna Kita, Yayasan Layak, YMPAI, Perwade, KDS Demau, Terjang, JIP dan Yayasan KAKI.

Ketiga odha ini ialah dua puan yakni, Melati (35), Rembulan (37), dan Anggur (32) yang seorang transgender yang jalani pekerja seks komersil.

Melati, mengaku sebelum setahun belakangan ini berhenti, dia sempat lima tahun beraktivitas. Namun sejak menyadari tertular odha ibu tiga anak ini terhenyak dan sadar.

“Sekarang saya berhenti demi anak-anak saya. Saya sekarang ini berwiraswasta kecil-kecilan saja. Waktu itu saya ikut ikutan jadi “begituan’ karena bercerai dengan suami yang tidak setia. Kemudian kebawa-bawa oleh pergaulan dengan teman-teman. Anak saya sudah besar jugq, ada satu di sekolah tingkat SMA dan dua di SMP. Mareka saya kasi tau bawa saya odha. Dan sekarang kami jaga keadaan ini dengan sebaik-baiknya. Saya konsumsi ARV setiap hari. Anak-anak saya sayang saya. Mareka selalu ingatkan saya untuk konsumsi ARV,” ujar wanita lembut ini ketika ditemui dalam pelatihan penanganan odha kepada wartawan dan organisasi madani di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok, pada 18-20 Juli.

Hal yang sama, demikian pula pengakuan Anggur (32), seorang transgender (waria). Anggur mengaku, sudah pernah tujuh tahun berkecimpung di ranah seks komersil ini. Namun, sudah sebulan ini berhenti dari aktivitas layanan ini sejak mendapat pasangan tetap sebagai ‘pacar’ dari seorang pria duda.

“Sekarang saya berhenti sebab dilarang pacar tetap saya. Dia menafkahi lahir dan bathin saya. Semoga saja kami langgeng sehingga saya gak usah kembali ‘kesitu lagi’. Bahaya, Mas. Dan saya sekarang sedang belajar punya ketrampilan. Semoga masyarakat dan Pemkot Depok ramah pada kami dan berikan penghargaan seperti layaknya warga biasa,” ujarnya.

Anggur akui, sebagai transgender dan orientasi seksual kepada pria bukan sebuah rekayasa. Dia sudah mempunyai sejak kecil. Keluarganya sudah memakluminya. “Saya dalam keluarga berperilaku sebagaimana anggota keluarga dan anak pada umumnya. Baik dan patuh kepada orangtua. Saya sudah pernah kerja dimana-mana. Sebagai pembantu rumah tangga, warung makan, tukang bangunan, atau mengamen,” ujar warga Kota Depok ini.

Waria yang ketika aktif ini, suka berkegiatan di JB pangkalan–menyebutkan sebuah nama tempat berkumpulnya waria yang dirahasiakan–tak memungkiri bahwa karena kesulitan mencari pasangan sesuai orientasi seksualnya inilah maka terpaksa menjadi pekerja seks sembari mendapat kepuasan.

Demikian pula pengakuan Rembulan (37) yang menjadi puan layan seks bertarif ini. Warga Kota Depok mengakui belum jadi odha. Tetapi disadarinya bahwa resiko asepsi HIV-AIDS cukup mengkhawatirkan. Maka sangat disiplin dalam mengharuskan pemakaian kondom kepada lawan kencannya. Hal yang harus dihindari adalah kesadaran menjaga tidak tertular untuk kedua pihak.

“Bila pakai kondom aman. Walau saya belum odha, tapi saya haruskan teman kencan saya tuk pakai kondom. Kalau mareka gak mau, lebih baik saya gak udah dapat duit. Harus diingat, ini kita harus jaga kesehatan bersama. Saya juga aktif memeriksa kesehatan saya,” sebut Rembulan yang mengaku mendapat teman kencan secara tetap dari perkawanan dengan aplikasi pesan terbatas ini.

Disebutkan tutor penanggulangan asepsi HIV-AIDS dari Indonesia AIDS Coalition (IAC) Syaiful Haharap, adanya realitas ini, pengajaran, kampanye, dan pelatihan masalah ini harus ditangani secara transparan, komprehensif, dan bijaksana. Apalagi, asepsi virus ini sudah teridap pada sejumlah usia dan kalangan dengan pelbagai cara. Mengetahui apa saja dan bagaimana saja virus ini dapat terjangkit adalah yang harus dilakukan.

Selain itu, pengetahuan tentang bagaimana cara menanggulangi, menyikapi para-odha lebih penting sehingga tidak salah kaprah dengan memusuhi mareka. “Carilah informasi yang kredibel tentang HIV-AIDS. Kasihan, tidak hanya orang dewasa, bayi-bayi pun sudah yang terjangkit penyakit merusak kekebalan tubuh ini. Penanganannya dengan cara disiplin konsumsi rejimen antiretroviral (ARV) sehingga menghambat virus HIV,” ujar Syaiful. (HIR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *