oleh

Persaudaraan Waria Kota Depok dan PSK Ungkapkan Pengalaman Hidupnya Saat Diklat HIV/AIDS

Depok, TribunAsia.com – Ketua Persaudaraan Waria Kota Depok, Jawa Barat menyampaikan melalui pendidikan dan pelatihan media maupun CSO di Jalan Margonda Raya. Kegiatan tersebut menurut Sofi sangat positif. Terlebih, dia mengatakan, pendidikan dan pelatihan tentang materi HIV/AIDS yang dimulai sejak tanggal 18-20 Juli 2019 itu dapat menambah wawasan tentang kesehatan.

Selain, menambah ilmu pengetahuan, diutarakan perwakilan waria itu, setidaknya masyarakat dapat menerima keberadaannya.

“Untuk menambah ilmu bisa bersosialisasi diluar transgender bisa diterima masyarakat dan status sosial mata masyarakat,” ujar waria dengan kemeja batik kepada TribunAsia.com, Jum’at (19/7/2019).

Namun, dia juga pernah merasakan pengalaman pahitnya hingga terjadi pengusiran dilakukan dari tempat tinggalnya. Justru, dari pengalaman buruk yang berlalu, dia merasa terbantu oleh lembaga pendamping yang bisa menyelesaikan permasalahan penolakan tempat tinggal tersebut.

“Pengusiran disalah satu di RW dan RT itu itu cuma 1 kasus ditangani KAKI (Komunitas Aksi Kemanusiaan Indonesia) itu kelar yang menjembatani itu,” kata dia.

Ia menambahkan, waria harus diberdayakan dan dijelaskan Sofi, tidak semua kelompok waria menjual diri dijalan tetapi banyak juga dijumpai sebagai make-up artis. Disamping itu, waria lainnya juga mencari ekonomi dengan menjual suara di Kota Depok, Jawa Barat.

“Karena, waria itu harus berdaya bukan diejek karena keberadaannya. Bukan jual diri, mereka bekerja make-up artis, bekerja disalon untuk di Depok sebagian ada yang ngamen dijalan,” ungkapnya Ketua Perwade.

Sementara, Melati (38) memaparkan, dirinya terjun kedunia prostitusi karena trauma dengan hubungan percintaan. Dia mengaku mengidap HIV sejak tahun 2014 lalu, ketika melakukan cek kesehatan di Puskesmas.

Diperkirakan, telah memasuki 4 tahun dia mengidap HIV dan kini terus berupaya mengonsumsi obat dari dokter. Lebih lanjut, Melati yang telah dikaruniai 3 orang anak saat ini memilih berhenti menjadi pekerjaan seks komersil (PSK) dan dia lebih memilih menjadi ibu rumah tangga karena anak-anak telah memasuki usia dewasa.

“Usia 38 tahun, awal terjun (PSK) karena trouma dan tuntutan ekonomi juga saya punya anak tiga. Pada waktu itu nggak punya niat seperti itu. Jadi saya tidak mengurusi dia (suami). Mengidap selama 4 tahun dari  2014, dicek di Puskesmas ada temen yang ngajakin sampai dicek juga 3 kali,” tutur mantan PSK.

Sekedar informasi, saat mengikuti Diklat, dia sudah kini sudah meninggalkan dunia gelap dan sibuk membesarkan putra-putrinya yang duduk di bangku SMA. Oleh sebab itu, dia merasa bersyukur karena buah hatinya yang masih bersekolah tidak mengidap penyakit HIV.

“Sekarang udah nggak sekarang anak saya kan sudah SMA. Intinya anak saya sudah tes, mangkanya saya cek anak yang paling kecil usia 5 tahun,” tandasnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *