oleh

Pemberitaan Positif Isu HIV/AIDS Diharapkan Dapat Menggugah Masyarakat

Depok, TribunAsia.com – Pemberitaan positif bagi penderita HIV/AIDS diharapkan dapat menggugah masyarakat. Terutama, media massa dituntut hadir untuk mengantisipasi perilaku-perilaku beresiko dikalangan masyarakat luas.

Syaiful Syaiful W Harahap selaku pemerhati pemberitaan HIV/AIDS menyampaikan, jika diantara masyarakat merasa dirinya beresiko karena sering melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan dapat segera mengkonsultasikan diri ke balai pengobatan terdekat.

“Kita melihat berita-berita itu belum menggugah masyarakat masih menampilkan berita-berita yang menakutkan. Memberikan stigma negatif kepada rekan-rekan yang mengidap HIV dan itu yang kita tekan kan. Dan supaya media itu dapat menggugah masyarakat karena mereka tidak melakukan perilaku yang beresiko,” jelas pengantar Diklat materi HIV/AIDS di Bumi Wiyata Green MICE Hotel Jalan Margonda Raya Depok, Kamis (18/7/2019).

Kata dia, melalui konseling dan tes kesehatan setidaknya dapat menyelamatkan anak dan istrinya dari HIV. Hal tersebut, disarankan untuk mendeteksi secara dini, karena untuk mencegah penularan HIV lebih luas dilingkungan keluarga.

“Disetiap rumah sakit itu ada, disetiap klinik kalau orang merasa berisiko bisa kesana untuk konseling. Puskesmas juga sekarang sudah bisa. Jadi kalau seseorang warga atau dirinya beresiko karena sering berhubungan seks baiknya, konseling dulu nanti setelah konseling akan di tes untuk HIV. Itu dilakukan untuk menyelamatkan istri dan anak-anaknya supaya tidak tertular HIV,” ungkapnya.

Dijelaskan kembali, menurut Syaiful, bila seseorang tertular HIV dipusat kesehatan memiliki pendampingan khusus. Diketahui, kelompok pendampingan akan memberikan pelayanan hingga tuntas termasuk penerimaan obat dirumah sakit tersebut.

“Kalau seseorang tertular HIV nanti dikasih tau rumah sakit nanti ada kelompok pendampingan itu namanya. Dia tidak akan putus nanti ada persahabatan untuk mengambil obat itu nanti ada kelompoknya disetiap rumah sakit pasti ada,” terangnya dihadapan peserta Diklat.

Sekedar informasi, peserta pendidikan dan latiha di Jalan Margonda Raya, Depok dihadiri berbagai kalangan yang konsen terhadap isu HIV/AIDS di Indonesia. Namun, dia menambahkan, praktek-praktek transaksi seks saat ini menggunakan transaksi media sosial dan transaksi tersebut terjadi diberbagai tempat.

“Yang paling banyak itu pada kalangan terutama berhubungan dengan pekerja seks langsung itu yang paling banyak. Dan termasuk hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan,” ujar pria berambut putih.

“Memang di Indonesiakan tidak ada lokalisasi pelacuran tapi praktek atau transaksi seks selalu terjadi di mana-mana itu yang sering terabaikan. Transaksi seks itu kan banyak dalam berbagai bentuk pakai media sosial, atau pun mereka bisa bertemu di mana-mana,” imbuhnya.

Disamping itu, Resputin selaku fasilitator bersama Lilis mengharapkan media massa dapat melaksanakan tugas jurnalistiknya tidak mendiskreditkan Odha atau pengidap HIV atau AIDS.

Lebih lanjut, wartawan dalam meliput isu HIV/AIDS melalui materi pendidikan dan latihan dapat memahami informasi tentang penanganan atau pun pencegahan mengenai hal tersebut.

“Harapannya apa yang diberitakan oleh teman-teman wartawan itu memang sesuai. Jadi mudah-mudahan dengan dipaparkannya informasi HIV teman temen media juga paham,” terang Putin kepada TribunAsia.com.

Menurut dia, Diklat yang diadakan selama 3 hari itu dapat dicerna masyarakat tentang HIV/AIDS termasuk penanganannya. Untuk pelatihan itu sendiri, dia pun mengundang perwakilan dari beberapa lembaga  termasuk didalamnya dihadiri PSK dan waria.

Informasi nanti bisa sesuai dengan apa yang dipaparkan, tidak mendiskreditkan odha atau pengidap HIV atau AIDS. Terlebih, kegiatan pendidikan dan latihan tentang materi HIV/AIDS dilaksanakan di 23 Kota di Indonesia.

“Tadi kan pertama materi tentang HIV yang dasar Terus yang kedua HIV itu kan bisa ditularkan oleh beberapa populasi dijelaskan ada yang dari wanita pekerja seks ada juga waria seperti itu. Kita buat pertemuan ini di 23 Kota. Kemarin dari saya dari Bogor kemarin itu Bogor Jayapura pindah ke Malang hari ini di Depok. Dua minggu lalu sudah dijalankan di Deli Serdang Medan terus Palembang, Bandung, pokoknya 23 Kota diwilayah intervensi Kementerian Kesehatan,” beber fasilitator. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *