oleh

Diklat HIV/AIDS, Media Diharapkan Beri Informasi Odha Agar Masyarakat Paham

Depok, TribunAsia.com – Resputin selaku fasilitator bersama Lilis menyampaikan wartawan dalam meliput isu HIV/AIDS melalui materi pendidikan dan latihan dapat memahami tentang Odha atau pengidap HIV. Ia mengharapkan, media massa dapat melaksanakan tugas jurnalistiknya dan tidak mendiskreditkan pengidap HIV atau AIDS sesuai dengan materi yang dipaparkan.

“Harapannya apa yang diberitakan oleh teman-teman wartawan itu memang sesuai. Jadi mudah-mudahan dengan dipaparkannya informasi HIV teman-temen media juga paham,” sebut Putin kepada TribunAsia.com, (18/7/2019).

Menurut dia, Diklat yang diadakan selama 3 hari itu dapat dicerna masyarakat tentang HIV/AIDS termasuk penanganannya. Untuk pelatihan itu sendiri, dia pun mengundang perwakilan dari beberapa lembaga termasuk didalamnya dihadiri PSK, waria dan Civil Society Organization (CSO).

Ketika itu, fasilitator juga  mendatangkan perwakilan jurnalis dari berbagai kantor media termasuk lembaga-lembaga lainnya diantaranya, Terjang Jawa Barat, JIP, dan Yayasan KAKI, KDS Hitam Putih, Kuldesak, Humakita, KDS Warna Kita, Yayasan Layak, YMPAI, Perwade, KDS Demau dan ACS Depok.

Terlebih, kegiatan pendidikan dan latihan tentang materi HIV/AIDS dilaksanakan di 23 Kota di Indonesia. Dia pun kembali berpesan dalam pemberitakan sesuai dengan apa yang telah dipaparkan dalam Diklat sehingga dapat dipahami publik.

Baca Juga : Pemberitaan Positif Isu HIV/AIDS Diharapkan Dapat Menggugah Masyarakat

Kegiatan pada Kamis pagi tersebut, mengharapkan untuk tidak mendiskreditkan Odha atau pengidap HIV atau AIDS. Terlebih, kegiatan pendidikan dan latihan tentang materi HIV/AIDS dilaksanakan di 23 Kota di Indonesia.

“Tadi kan pertama materi tentang HIV yang dasar Terus yang kedua HIV itu kan bisa ditularkan oleh beberapa populasi dijelaskan ada yang dari wanita pekerja seks ada juga waria seperti itu. Kita buat pertemuan ini di 23 Kota. Kemarin dari saya dari Bogor kemarin itu Bogor Jayapura pindah ke Malang, hari ini di Depok,” ucapnya.

“Dua minggu lalu sudah dijalankan di Deli Serdang Medan terus Palembang, Bandung, pokoknya 23 Kota diwilayah intervensi Kementerian Kesehatan,” terang fasilitator.

Syaiful Syaiful W Harahap selaku pemerhati pemberitaan HIV/AIDS menyampaikan, jika diantara masyarakat merasa dirinya beresiko karena sering melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan dapat segera mengkonsultasikan diri ke balai pengobatan terdekat.

“Kita melihat berita-berita itu belum menggugah masyarakat masih menampilkan berita-berita yang menakutkan. Memberikan stigma negatif kepada rekan-rekan yang mengidap HIV dan itu yang kita tekan kan. Dan supaya media itu dapat menggugah masyarakat karena mereka tidak melakukan perilaku yang beresiko,” kata pengantar Diklat materi HIV/AIDS di Hotel Bumi Wiyata Jalan Margonda Raya, Depok, Jabar.

Kata dia, melalui konseling dan tes kesehatan setidaknya dapat menyelamatkan anak dan istrinya dari HIV. Hal tersebut, disarankan untuk mendeteksi secara dini, karena untuk mencegah penularan HIV lebih luas dilingkungan keluarga.

“Disetiap rumah sakit itu ada, disetiap klinik kalau orang merasa berisiko bisa kesana untuk konseling. Puskesmas juga sekarang sudah bisa. Jadi kalau seseorang warga atau dirinya beresiko karena sering berhubungan seks baiknya, konseling dulu nanti setelah konseling akan di tes untuk HIV. Itu dilakukan untuk menyelamatkan istri dan anak-anaknya supaya tidak tertular HIV,” ungkapnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *