oleh

Slamet Maarif : Imam Kita ke Mekah bukan Kertanegara

Jakarta, TribunAsia.com – Setelah Mahkamah Konstitusi (MK) yang memenangkan paslon 01, suhu politik di tanah air yang tinggi tak kunjung mereda. Ummat dan rakyat tetap saja menilai rezim ini dibangun dengan kecurangan dan kebohongan.

Pada saat yang sama, beban ekonomi rakyat kian berat. Penguasa menaikan pajak dan berbagai kebutuhan dasar. Bukan mustahil sebentar lagi listrik dan BBM akan dinaikan untuk membayar utang kepada asing dan aseng yang terus menggunung.

Untuk itulah, Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang memperjuangkan pasangan Prabowo – Sandi pada pilpres 2019, yang diharapkan akan dapat menegakan keadilan dinegeri ini, akan terus fokus berjuang untuk ummat dan rakyat.

Hal itu disampikan Ketua PA 212, Slamet Maarif dalam konfrensi pers yang di gelar oleh Gerakan Kedaulatan Rakyat Untuk Keadilan dan Kemanusiaan (G), pada beberapa waktu lalu di Tebet.

Setelah  Mahkamah Konstitusi (MK) yang memenangkan paslon 01, suhu politik di tanah air yang tinggi tak kunjung mereda. Ummat dan rakyat tetap saja menilai rezim ini dibangun dengan kecurangan dan kebohongan.

Pada saat yang sama, beban ekonomi rakyat kian berat. Penguasa menaikan pajak dan berbagai kebutuhan dasar. Bukan mustahil sebentar lagi listrik dan BBM akan dinaikan untuk membayar utang kepada asing dan aseng yang terus menggunung.

Ketua PA 212, juga mengajak ummat Islam pendukung Prabowo – Sandi, untuk mengakhiri masalah pilpres.

“Kawan-kawan semua, ayolah pilpres sudah selesai, Prabowo sudah selesai. Jangan teralu dihantui dengan persoalan itu terus,”ujarnya.

Kepada kader dan simpatisan PA 212, Slamet menegaskan bahwa imam yang menjadi acuan pergerakan saat ini adalah Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

Menurutnya, acuan tersebut menjadi penting dicatat dalam perjuangan umat Islam mendatang.

“Saya ingin mengingatkan kepada Alumni 212, bahwa imam kita bukan yang ada di Kertanegara (rumah Prabowo-red), tapi yang ada di Makkah (Habib Riziek). Ini perlu dicatat oleh gerakan kita tegasnya.

Lebih lanjut, Slamet menegaskan bahwa semangat Alumni 212 dalam menegakan keadalian tidak berhenti setelah putusan MK. Menurutnya, pilpres sebatas alat perjuangan untuk mengusung kepentingan agama dan rakyat. Termasuk, partai-partai  yang berhimpun dalam Koalisi Adil Makmur.

Lebih lanjut, Slamet mengajak umat untuk menyongsong Pilkada 2020. Perjuangan untuk umat masih menjadi fokus dalam pilkada tersebut.

“Kami semua yakin kemenangan itu akan diberikan Allah. Jangan mundur  dan takut, tunggu peluang itu. Lupakan kemarin, ayo kita bersatu kembali,”jelas Ketua PA 212, Slamet Maarif.

Kepada kader dan simpatisan PA 212, Slamet menegaskan bahwa imam yang menjadi acuan pergerakan saat ini adalah Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

Menurutnya, acuan tersebut menjadi penting dicatat dalam perjuangan umat Islam mendatang.

“Saya ingin mengingatkan kepada Alumni 212, bahwa imam kita bukan yang ada di Kertanegara (rumah Prabowo-red), tapi yang ada di Makkah (Habib Riziek). Ini perlu dicatat oleh gerakan kita tegasnya.

Lebih lanjut, Slamet menegaskan bahwa semangat Alumni 212 dalam menegakan keadalian tidak berhenti setelah putusan MK. Menurutnya, pilpres sebatas alat perjuangan untuk mengusung kepentingan agama dan rakyat. Termasuk, partai-partai  yang berhimpun dalam Koalisi Adil Makmur.

Lebih lanjut, Slamet mengajak umat untuk menyongsong Pilkada 2020. Perjuangan untuk umat masih menjadi fokus dalam pilkada tersebut.

“Kami semua yakin kemenangan itu akan diberikan Allah. Jangan mundur  dan takut, tunggu peluang itu. Lupakan kemarin, ayo kita bersatu kembali,”jelas Ketua PA 212, Slamet Maarif.  (RAT)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *