oleh

Zuhud

TribunAsia.com

Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan seseorang kepada Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Sahl bin Sa’d as-Sa’idi.

Pribadi seperti apakah yang disenangi Allah SWT dan Manusia ?

Saat itu, Nabi SAW menjawab, ”Bersikap zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintaimu. Dan, bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia niscaya manusia akan menyukaimu.” (HR Ibnu Majah).

Sabda Nabi SAW di atas punya dua kalimat kunci :

PERTAMA, ‘zuhud terhadap dunia’ menunjukkan bahwa dunia adalah jembatan yang mengantarkan seseorang pada tujuan akhirat. Orientasi akhirat merupakan bentuk kebebasan spiritual yang melepaskan diri dari belenggu keduniawian.

Meskipun lebih dikenal sebagai sikap yang berorientasi pada akhirat, zuhud bukan berarti sikap melupakan kehidupan dunia atau mengabaikannya. (QS Alqashash [28]: 77).

Zuhud bukan antidunia, menjauhi dunia, atau memilih untuk hidup sengsara. Justru, zuhud membangun optimisme dengan meletakkan harapan pada ke-Mahakuasa-an Allah SWT.

KEDUA, ‘zuhud terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain’ merupakan bentuk sikap mandiri, sederhana, dan empati.

Dengan zuhud, orang tak silau gemerlap harta orang lain. Orang tak terobsesi jabatan orang lain. Segala yang dimiliki orang lain bukan perhatian utama.

Malah, zuhud mengalihkan perhatian dari ‘apa yang dimiliki orang’ pada ‘orang yang tidak memiliki apa-apa’.

Di antara sumber masalah kemanusiaan, salah satunya berasal dari kecintaan berlebih terhadap dunia dan keinginan menguasai apa yang dimiliki orang lain. Sebut saja korupsi, kerusakan lingkungan, degradasi moral, dan narkoba merupakan turunan dari kecintaan yang berlebihan terhadap dunia.

Perselingkuhan, konflik, dan kekerasan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kerakusan dan ambisi menguasai hak orang lain. Zuhud akan mengembalikan pusat kehidupan manusia dari egosentris ke teosentris.

Kehidupan yang berpusat pada egosentris melahirkan sikap mementingkan diri sendiri, cinta dunia, rakus, kikir, serta tidak peduli pada lingkungan dan manusia di sekelilingnya.

Pada gilirannya, egosentris (atau antizuhud) menjadi salah satu sumber petaka kemanusiaan, baik itu sifatnya pribadi maupun melebar ke masyarakat luas.

Dengan zuhud, manusia diharapkan tidak lagi mementingkan diri sendiri. Zuhud melahirkan paradigma teosentris yang menegaskan fungsi khalifatullah sebagai bagian dari misi suci.

Misi ketuhanan ini diimplementasikan pada perilaku yang peduli terhadap masalah kemanusiaan. Orang yang berpribadi Zuhud semacam ini tentu saja dicintai Allah SWT, penghuni Langit dan Bumi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *