oleh

Hitung-Hitungan Gerindra Jelang Pilkada Kota Depok

Depok, TribunAsia.com – Konstalasi politik di Kota Depok mulai menghangat. Pasca pileg dan Pilpres 17 April lalu, sudah memperlihatkan peta kekuatan politik di DPRD Kota Depok yaitu, posisi pertama diraih PKS dengan 12 kursi, dan peraih suara kembar yaitu Partai Gerindra dan PDIP yang masing 10 kursi.

Dilaporkan TribunAsia.com (17/6). Dari raihan politik ini, terbawa pada dinamika menatap Pilkada 2021 untuk mendapat pasangan calon Wali dan Wakil Wali Kota Depok periode 2021 – 20126. Saat ini tampuk kewalikotaan didueti Muhammad Idris dan Pradi Supriatna. Pada pilkada tahun 2016 yang lalu sebagai walikota Idris diusung oleh PKS dengan 6 kursi DPRD yang berkoalisi Gerindra yang mengusung Pradi. Pradi sekaligus juga Ketua DPC Partai Gerindra Kota Depok

Kejaksaan Negeri Jakarta Timur - ZONA INTEGRITAS (Wilayah Bebas Korupsi)

Disebutkan Ketua Pelaksana Harian Gerindra Jamaluddin, dengan perubahan peta politik pascapileg, membuat Gerindra  harus melakukan hitungan ulang sebab, PKS jadi peraih kursi terbanyak di DPRD.

“Politik itu kan dinamis dan terbuka. Jadi sekarang, pada pada pilkada yang prosesnya akan dimulai pada September 2020 ini, Kami harus lakukan hitung-hitungan ulang. Apakah masih bisa berpasangan Idris dengan Pradi atau tidak. Itu berpulang kepada DPP Gerindra dan PKS. Yang pasti DPC Gerindra sudah bulat mengusung Pradi sebagai D1 (Depok 1- Wali) atau D2 (Depok 2- Wakil).

Jika sebagai D2, tegas Jamaluddin, Pradi wajib berpasangan dengan Idris. Maka bila Idris tidak dicalonkan lagi oleh PKS “Maka otomatis Gerindra usungkan Pradi sebagai D1. Soal calon pendampingnya banyak kok, tokohnya orang Depok ini,” sebutnya.

Gerindra, aku Jamaluddin, istilahnya masih masih lakukan light political communication dengan pelbagai pihak partai politik, tokoh masyarakat, pengusaha, maupun birokrat yang punya elektabilitas.

Jika Pradi tidak lagi berpasangan dengan Idris maka, Gerindra akan cari figur lain sebagai wakilnya. Diantara figur yang potensial yaitu Acep Azhari (pengusaha-pendidik), Yahman (pengusaha), Muhammad Hafidz Nasir (Ketua DPD PKS Kota Depok-Anggota DPRD, Imam Budi Hartono (anggota Fraksi PKS, DPR Provinsi Jawa Barat), dan Qonita Luthfiyah (Ketua DPC PPP Kota Depok-Anggota DPRD).

Konfirmasi kepada Asep Azhari, secara ringan, dia menanggapi bersedia saja jika ada pihak yang mengusung namanya. Namun, Azhari tidak berharap banyak. Selain dirinya berkonsentrasi dibidang bisnis dan lembaga Ghama d’Leader School  yang dipunyainya, pendidik yang konsen di pendidikan karakter entrepreneurship ini merasa masih ada figur lain yang berkapasitas. Dia akui, sudah ada beberapa parpol dan politisi yang mendekatinya untuk menjadi alternatif di pilkada nanti.

“Waduh…. Kok saya kesebut-sebut. Tapi, bila ada yang melihat diri saya ya, alhamdulillah. Tapi semuanya harus kita pertimbangkan untuk berkontribusi pada pembangunan kota kita ini. Soal siap apa tidak?. Demi ibadah dan peran serta membangun semua kita harus peduli,” ujarnya. (HIR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *