oleh

Puasa dan Kemenangan Pendidikan

Jakarta, TribunAsia.com – Akhir dari perjalanan ibadah puasa yang dilaksanakan selama Ramadan, dimaknai sebagai pencapaian hari kemenangan berupa perayaan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Momen yang biasanya penuh dengan kegembiraan serta untuk berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, mengenakan baju baru dan menikmati berbagai tempat rekreasi bersama.

banner 336x280

Lebih jauh dari itu semua, Allah SWT telah menjanjikan kemenangan yang sesungguhnya dari ibadah puasa Ramadan bagi hamba-Nya, yaitu mencapai derajat takwa yang lebih baik.

 

Thalq bin Habib Al Anazi

mengungkapkan bahwa takwa ialah mengamalkan ketaatan kepada Allah, mengharapkan ampunan-Nya, dan meninggalkan maksiat serta takut terhadap azab Allah. Inilah esensi kemenangan sesungguhnya yang Allah janjikan/

Ketika ibadah puasa telah usai, manusia yang mencapai kemenangan berupa derajat takwa mengalami perubahan dalam menjalani kehidupan, baik dalam segi beribadah, bermuamalah, maupun bergaul sesama manusia menjadi lebih baik karena berbagai fase latihan kebaikan yang dilakukan selama Ramadan telah mengkristal menjadi karakter baik baginya.

 

KEMENANGAN DALAM PENDIDIKAN

Tak ubahnya ibadah puasa pada bulan suci Ramadan yang diakhiri dengan perayaan hari kemenangan/Lebaran, dalam perspektif pendidikan, tentunya kemenangan dapat juga diraih dan dimaknai dari berbagai hal.

Sebagian orang memaknai kemenangan pendidikan dengan memperoleh nilai tinggi pada saat ujian. Sebagian yang lain memaknainya dengan dinyatakan lulus pada sebuah institusi pendidikan.

Bahkan, beberapa yang lain memaknai kemenangan pendidikan ketika dinyatakan lulus dan mampu bertarung untuk masuk ke perguruan tinggi atau memperoleh pekerjaan yang layak berdasarkan pendidikannya.

Berdasarkan pemaknaan tersebut, berbagai hal pun dilakukan banyak orang untuk memperoleh kemenangan berdasarkan persepsinya.

Belajar dengan tekun serta terus mengasah kemampuan kognitif, merupakan salah satu hal yang banyak dilakukan, sedangkan yang lain fokus belajar serta membangun relasi untuk mengenal banyak hal dan bisa dengan mudah mencapai tujuan akhir nantinya. Tentu saja hal itu tidak salah.

Namun sangat disayangkan, orang-orang ini hanya berfokus pada pencapaian kognitif semata, tetapi abai akan afektif dan kemampuan psikomotorik yang juga merupakan unsur pencapaian kemenangan seseorang.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab

Berdasarkan UU di atas jelas terlihat bahwa tujuan pendidikan nasional tidak hanya untuk mencapai ranah kognitif peserta didik, tetapi lebih dari itu aspek afektif dan psikomotorik juga merupakan hal yang perlu diperhatikan.

Hal itu begitu penting mengingat saat ini banyak peserta didik yang cerdas secara kognitif, tetapi masih gagap dalam beretika dan berakibat pada rusaknya moral peserta didik.

Hal itu tecermin dari terjadinya penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan tawuran antarpelajar. Belum lagi tidak menutup kemungkinan saat besar nanti peserta didik menjadi orang yang sukses, tetapi gagal dalam bersikap sehingga terjadinya korupsi dan berbagai hal negatif lainnya. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *