oleh

Catatan Efektivitas Pemerintah Pasca Pilpres

Jakarta, TribunAsia.com – Ada dua indikator penting yang dapat kita baca pasca-Pemilu Serentak 2019. Bagaimana sistem kepartaian yang terbentuk dan sejauhmana tendensi pembentukan pemerintahan mayoritas.

Sistem kepartaian diukur dengan menggunakan formula jumlah efektif partai di parlemen (Laakso-Taagepera, 1979) memerlihatkan, effective number of parliamentary parties (ENPP) sebesar 7,47 atau tujuh sistem kepartaian.

banner 336x280

Meski indeks sistem kepartaian Pemilu 2019 ini lebih rendah jika dibandingkan dengan Pemilu 2014 dengan indeks 8,17 atau delapan sistem kepartaian, masuk kategori multipartai ekstrem (Coppedge, 1998) atau sistem multipartai tanpa satu partai dominan (Blondel, 1968).

Namun, jika sistem kepartaian dihitung berdasarkan porsi kursi koalisi, indeks ENPP menghasilkan angka 1,91 atau sistem kepartaian dwipartai. Pada sisi tendensi pembentukan mayoritas dan efektivitas sistem pemerintahan.

Data hasil pemilu menunjukkan distribusi kursi lima partai politik koalisi pengusung pasangan 01 menguasai setidaknya 60,70% dari total 575 kursi di DPR, sedangkan presiden terpilih meraup 55,33% suara pemilih.

Konfigurasi itu akan berdampak terhadap situasi bahwa presiden terpilih, selain memeroleh suara mayoritas pemilih, juga akan menikmati dukungan mayoritas di DPR.

Koherensi berupa penyatuan kekuasaan dan penyatuan tujuan antarcabang kekuasaan terjadi sehingga potensi konflik kelembagaan;

Eksekutif dan Legislatif dapat dihindari. Dengan demikian, efektivitas sistem pemerintahan teoretis akan terwujud. Teorisasi efektivitas pemerintahan presidensialisme di atas tentu memiliki sejumlah syarat.

PERTAMA, apakah komitmen koalisi yang dibentuk sejak awal dimulainya pencalonan pasangan capres/cawapres dapat tetap terjaga atau akan goyah, oleh karena sudah dimulainya pembicaraan dengan sejumlah partai dari kubu yang lain.

KEDUA, komitmen berkoalisi dan menjalankan program pemerintahan di lembaga perwakilan juga membutuhkan ukuran kompensasi politik pada konteks pembentukan kabinet. Apakah porsi dukungan setiap partai anggota koalisi di DPR akan tecermin melalui derajat kabinet.

KETIGA, apakah disiplin fraksi koalisi pemerintah tetap terjaga pada masa pemerintahan.

Misalnya, soliditas fraksi koalisi dalam pengesahan undang-undang ataupun kebijakan-kebijakan lain yang membutuhkan persetujuan dua cabang kekuasaan, baik eksekutif maupun legislatif. Pada akhirnya, data hasil Pemilu 2019 memerlihatkan sejumlah modalitas penting bagi prospek pemerintahan presidensialisme efektif.

Namun, modalitas ini bukan berarti premis yang tidak dapat berubah mengingat dinamika politik yang ada. Pada akhirnya akan bergantung  sejumlah faktor lain di luar dimensi elektoral, seperti kalkulasi politik, model kepemimpinan, maupun iktikad politik dari dua kubu yang ada.

Meski demikian, satu hal tetap harus diingatkan kepada presiden terpilih serta koalisi pendukungnya. Salah satu tujuan keserentakan pemilu ialah dalam rangka meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan melalui bangunan koalisi yang ajek.

Namun, teorisasi ini bisa buyar, ketika presiden terpilih justru tergoda untuk mengubah komitmen dan cikal bakal koalisi permanen yang sudah dibangun sejak awal.

Catatan Berikutnya.

Secara teori pemerintahan efektif bisa terwujud. Untuk mengujinya, dapat dimulai dengan membuka kontrak koalisi yang telah dibuat kepada publik.

Kontrak koalisi, bukanlah sekadar dokumen yang berisi iktikad politik antara pasangan calon dan partai-partai pendukung, melainkan bagian dari komitmen politik pasangan calon terpilih dan partai koalisi dengan publik.

Kontrak Politik bagian dari dokumen publik sehingga perlu diketahui dan dikawal bersama apa saja agenda politik dan program-program yang akan dilaksanakan, termasuk komitmen pembagian kekuasaan yang dilakukan di antara anggota-anggota koalisi.

Dengan demikian, ke depan, tidak ada lagi alasan pembenar apa pun bagi presiden terpilih, kabinet, dan koalisi pendukung untuk tidak merealisasikan program-program dalam periode masa pemerintahan. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *