oleh

Awak Bus Terminal Pulo Gebang Keluhkan Pendapatan Tiket yang Sepi

Jakarta, TribunAsia.com – Awak bus antar kota maupun provinsi keluhkan pendapatan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1440 H di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur. Pasalnya, kata PL Subroto memasuki -2 Lebaran belum ditemukan tanda-tanda melonjaknya calon penumpang.

Pria yang mengenakan seragam PO Puji Jaya jurusan Jepara-Jakarta membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dia menilai Lebaran tahun 2019 jumlah penumpang paling sedikit.

Dia menambahkan, diera Gubernur DKI Jakarta ketika di jabat oleh Basuki Cahaya Purnama justru armada ditempat Subroto mengais rezeki lebih ramai penumpang yang hendak mudik. Sebaliknya, diera Gubernur Anies Baswedan calon pemudik yang menggunakan transportasi bus mengalami penurunan.

Ironisnya, dia menyampaikan agen-agen penjualan tiket ditepi jalan kini menjamur dan pengalaman tahun lalu ditertibkan karena berada di terminal bayangan. Tidak hanya itu, dia mengeluhkan BUMN juga membuka layanan mudik bareng gratis yang berdampak pada penjualan tiket.

“Agen-agen dan mudik gratis pengaruh terhadap penumpang dan sistem online. Yang pengaruh drastis itu agen-agen waktu zaman Ahok agen-agen ditutup penumpang beli tiket diterminal jauh beda dari (Terminal) Pulo Gadung,” beber awak bus yang menanti penumpang tak kunjung tiba, Senin (3/6/2019).

“Kalau zaman Pak Ahok agen-agen ditutup (bayangan) mobil dikandangin karena diluar terminal, udah 4 tahun nggak ada kemajuan,” cetusnya.

Bahkan, dia menjelaskan menjelang Hari Raya Idul Fitri saat ini dia baru mendapatkan penumpang sejumlah 20 orang hingga petang hari. Selain itu, Subroto  mengutarakan pendapatan selaku awak bus menurun jauh dari tahun lalu.

Ia kembali merinci, pada tahun 2018 lalu jumlah penumpang yang akan mudik ke kampung halaman mencapai 3-4 armada bus diberangkatkan dari terminal Pulo Gebang.

“Tahun lalu dapat penumpang 3-4 mobil sekarang 20 orang. Dari pagi sampai sore pokonya penumpang jauhlah. Agen-agen batangan yang diluar (terminal) dikali malang dan podok gede,” jelasnya.

Bejo Purnomo pun menandaskan, perbandingan tahun lalu dengan calon pemudik tahun 2019 ini nyaris turun tajam jumlah penumpang. Ia memperkirakan, para pemudik lebih memilih melakukan order tiket melalui jalur online daripada transaksi di loket yang berada diterminal.

Terlebih, menurut awak bus itu akses menuju Terminal Bus Terpadu Pulo Gebang banyak dikeluhkan calon penumpang dengan alasan keterbatasan transportasi untuk menuju terminal tersebut.

“Kalau tahun kemarin (2018) rame sekarang banyak yang online. Jauh beda sama di terminal Pulo Gadung , masalah akses jalan ada dari berbagai jalan ada. Kesatu akses tertentu untuk penumpang datang kesini kalau Pulo Gadung kan ada macem (transportasi) Maya Sari dan Metromini,” kata dia.

Pria yang mengenakan seragam PO AM Trans jurusan Jakarta-Solo memaparkan, menjelang pukul 21.00 Wib tak satupun calon penumpang dijumpai bahkan dia menyebutkan sepi bak kuburan.

Dari sekian banyak awak bus serupa dirasakan sulitnya menjual tiket bus di terminal Pulo Gebang, Cakung Jaktim. Bahkan, dari pantauan TribunAsia.com banyak bus luar kota yang terparkir karena langkanya pergerakan penumpang yang akan kekampung halaman.

“Alhamdulillah dapat 2 orang. Jam 9 malam udah pada sepi kalau kata orang Jawa udah pedih perih,” sebutnya dengan nada sinis.

Yang lebih memprihatinkan, Bejo bersama rekan-rekan se=profesinya berteriak sulitnya mencari makan sebagai awak bus. Lebih lanjut, dia berharap di Hari Raya Idul Fitri dalam hitungan satu hari kedepan keluarga kecilnya dapat menikmati Lebaran. Kemudian, Senin petang dijelaskannya belum terlihat calon penumpang menghampiri loket tiket yang dijaganya itu.

“Masalahnya ketupat masih ada nggak ?, jatah beli sandal, sarung, pakaian anak belum dapat. Nyari makan bener-bener mati disini nggak rata,” ungkapnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *