oleh

Simpel di Pakai, Pembeli Baju Koko Memilih Motif dan Kombinasi

Jakarta, TribunAsia.com – Pedagang baju Koko menyampaikan motif dan kombinasi bordir banyak dipilih pembeli karena alasan simpel dipakai. Wandi (25) mengungkapkan pakaian muslim yang diburu pembeli pada bulan Ramadhan itu di bandrol dengan kisaran harga Rp 65 ribu hingga Rp 95 ribu dalam tiap potong.

“Kebanyakan orang yang mencari lebih banyak motif bahan karena lebih simpel. Kalau yang Rp 65 ribu kombinasi bahan tetapi harga Rp 95 ribu kombinasi bordir untuk harga sekarang ini tawar-menawar,” kata pedagang musiman itu kepada TribunAsia.com, Jum’at (24/5/2019).

banner 336x280

Dia menambahkan, calon pembeli yang mengunjungi lapaknya didominasi remaja maupun orang tua. Kata dia, bisanya akhir pekan pembeli ramai mencari baju Koko untuk kebutuhan ibadah bulan Ramadhan.

“Yang datang campur anak muda dan orang tua variasi-lah. Yang paling rame malam Minggu dan hari Minggu. Untuk hari sekitar 7 potong yang terjual,” jelasnya.

Namun, pedagang yang sama juga mengatakan calon pembeli baju Koko ditempatnya itu banyak berasal dari kota Bekasi, Jawa Barat. Putra (23) mengungkapkan para pembeli biasanya datang bersama rekan-rekannya dan mengendarai sepeda motor.

“Calon pembeli kebanyakan dari warga Bekasi kalau daerah sini (Cakung) ada juga tapi nggak seperti area Bekasi,” ujarnya.

Terlebih, dia merinci kembali, konsumen yang hendak membeli barang dagangannya itu lebih condong memiliki motif variasi corak batik. Sekedar informasi, Putra hanya menjual pakaian kemeja untuk sholat saja dan tidak menjual songkok maupun perlengkapan aksesoris lainnya. Adapun untuk jam operasional membuka lapak yang terdapat ditepi jalan Penggilingan, Cakung, Jaktim dia lebih memilih petang hari dan tutup pukul 00.00 WIB.

“Yang banyak dicari pembeli model baju koko seperti variasi batik. Hanya baju Koko doang asesorisnya nggak jual,” sebut dia lagi.

Selama dia menggelar barang dagangan, Putra memperkiraan jumlah pengunjung yang menghampiri lokasi tersebut antara jam buka puasa dan selepas sholat tarawih. Untuk barang yang dijualnya itu dia lebih memilih membeli pakaian jadi dari pada produksi sendiri dengan alasan keterbatasan.

“Setalah buka puasa dan taraweh banyak yang datang. Beli tidak produksi,” imbuhnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *