oleh

Ribuan Massa Geruduk Bawaslu Justru Pedagang PKL Raup Keuntungan

Jakarta, TribunAsia.com – Ribuan massa pendemo geruduk kantor Bawaslu RI justru mendatangkan keuntungan besar bagi pedagang kaki lima (PKL) diarea sepanjang Jalan Sarinah menuju Jalan Jaksa, Jakarta Pusat.

Muzammil (18) mengatakan barang dagangannya laris manis dari dampak kerumunan massa yang merangsek masuk ke perempatan lampu merah Sarinah-Thamrin untuk menyampaikan aspirasi mereka akibat kecurangan Pemilu 2019.

Dengan fasilitas gerobak roda pedagang minuman ringan tersebut spontan dikerubuti calon pembeli yang baru saja berbuka puasa. Tidak hanya itu orator demo pun menghampiri dia untuk sengaja melepas dahaga dengan sebotol air mineral yang dijual pemuda tersebut.

“Ya rame. Rokok, Nutrisari, air minum (mineral) dan kopi. Hari ini penjualan bagus,” kata Zamil kepada TribunAsia.com Rabu malam, (22/5/2019).

Selain itu dia menjelaskan, di lokasi sekitar Monas biasanya Zamil mangkal dan mencari rezeki berdagang air mineral termasuk minuman hangat seperti kopi dan teh manis.

Lebih lanjut, PKL itu datang setelah waktu shalat Ashar dan mengaku aksi pada tanggal 22 Mei 2019 yang dipusatkan di kantor Bawaslu dirinya meraup keuntungan dua kali lipat dari rutinitas biasanya.

“Biasanya di Monas jualannya. Dari jam 4 sore (16.00 WIB). Pendapat dua kali lipat daripada hari biasa,” jelasnya.

Namun, hal serupa dialami pedagang kaki lima lainnya, seperti pedagang Bakso, Nasi Goreng dan Soto barang dagangannya habis lebih awal karena banyak pembeli.

Muhammad menuturkan Bakso yang dijualnya itu habis terjual dalam hitungan beberapa jam lamanya. Diketahui harga satu porsi Bakso yang dijualnya itu senilai Rp 15 ribu rupiah diruas Jalan Jaksa.

Bahkan, karena laku kerasnya dagangannya tersebut, dirinya tak putus-putus disambangi calon pembeli meskipun dirinya tengah mencuci mangkok.

“Tadi dari sore sudah keluar. Omset hari ini lumayan,” singkat dia sambil merapihkan gerobak dan bertolak pulang menuju Kwitang, Jakpus.

Disamping itu, Mutayam pedagang mie ayam lebih memilih mangkal dilokasi akses konsentrasi massa dan dia pun mengalami tutup lebih awal dibandingkan membuka dagangannya ditempat lain karena dagangannya habis terjual. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *