oleh

Strategi Sang Jenderal

TribunAsia.com

Oleh : Tendri

Kamis tanggal 2 Mei Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY ) menemui Jokowi di Istana Negara. Ini pertemuaan partai kedua setelah Zuklkifli Hasan ketua Partai Amanat Nasional bertemu Jokowi. Partai Demokrat dan PAN adalah partai pengusung Prabowo.

Bertemunya kedua tokoh Partai ini dengan Jokowi, menunjukan permainan telah berakhir sebelum waktunya habis dan wasit meniupkan peluit pada tanggal 22 Mei 2019

Jokowi sengaja menyajikan dengan manis pertemuannya dengan kedua tokoh ini, sehingga terbentuk opini publik bahwa partai lawan telah mengakui kemenangannya. Pemilih Prabowo diminta legowo, permainan telah berakhir dan rakyat diminta kembali kepada aktifitasnya masing-masing.

Suara rakyat memang suara Tuhan, karena suara rakyat yang menentukan kemenangan sang calon presiden.

Tetapi setelah pilpres dan rakyat sudah memilih, bola tidak ditangan rakyat lagi. Bola sudah berada ditangan Komisi Pemilihan Umum ( KPU ), Badan Pengawas Pemilu ( Bawaslu)  dan terakhir di Mahkamah Konstitusi ( MK ).

Rakyat hanya bisa menonton diluar lapangan, yang ada dilapangan adalah capres dan partai pengusung yang saling berhadapan. Wasitnya KPU, yang menentukan siapa yang menang.

PAN dan Demokrat sudah merapat ke Jokowi, berarti itu tanda bahwa kedua partai itu mengakui kemenangan Jokowi. Issu curang yang berseliweran di Medsos dan televisi akan menguap dengan sendirinya dengan kedatangan kedua tokoh partai ini ke Jokowi.

Inilah strategi politik yang canggih, yang tidak sulit memainkannya kalau tokoh politik haus kekuasaan. Kekuasaaan itu perlu karena untuk kelangsungan hidup partai yang tidak dibiayai oleh negara.

Awalnya memang ada dua jenderal dibelakang Jokowi, Hendro Priyono dan Luhut Binsar Panjaitan. Masuknya Moeldoko menambah kekuatan di tim Jokowi. Ketiga jenderal ini menguasai dunia intelijen dan ahli strategi.

Feeling saya yang memainkan biduk catur ini Moeldoko. Moeldoko yang punya kemampuan dan lobby ke Bambang Susilo Yudhoyono.

Bisa saja strategi ini timbul setelah pemilihan. Tapi bisa juga strategi ini memang sudah dirancang jauh hari sebelum pengusungan capres.

PAN dan Demokrat memang sengaja dibiarkan masuk kubu Prabowo dan akan digunakan legitimasinya pada saat sebelum pengumuman KPU, serta mengantisipasi kalau timbul issu kecurangan. Dalam kondisi genting seperti ini posisi  tawar SBY jadi mahal dan berjasa buat Jokowi.

Inilah strategi politik sang jenderal, yang  orang sipil tidak mempelajarinya dalam Ilmu politik. Politikus sipil hanya bisa ngaung- ngaung bak katak dalam tempurung.

Dunia politik, dunia pesta pora para binatang kata Iwan fals dalam lirik lagunya. Dunia yang enak untuk dibahas tapi membutuhkan mental binatang untuk larut dalam hiruk pikuknya.

Kompetisi telah berakhir dengan anti klimaks, kita rakyat tidak bisa berbuat apa-apa. Kita yang punya negara ini tapi kita hanya bisa jadi penonton kalau perlehatan lima tahun ini berakhir.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *