oleh

“Ma’rifat al-Ma’ad – I” Memahami Perjalanan Kehidupan Setelah Kematian

TribunAsia.com

Oleh : Ustad. Dudung Jumantarisawan

“Al-Ma’ad” atau Kebangkitan kehidupan kembali setelah kematian  adalah prinsip keimanan yg harus diyakini oleh seorang muslim. Bahkan dalam al-Qur’an pada banyak ayatnya Allah SWT menggandengkan antara kewajiban beriman kepada Allah dan Hari Akhir (QS 2:177).

Keyakinan ini pun ada pd semua agama. Kesadaran bahwa kehidupan tak terhenti di dunia semata membuat manusia mawas diri akan adanya perjalanan kehdupan berikutnya yg disana setiap tindakan akan mendapatkan perhitungannya. Setiap perbuatan sekecil apapun akan tersaksikan (QS 99:6-7)

Memiliki Ma’rifat al-Ma’ad menjadi mendasar untuk memahami rahasia perjalanan diri kita dalam kehidupan berikutnya dan memahami tujuan utama Allah ciptakan diri kita. Kesempurnaan tak pernah terjadi dalam kehidupan singkat kita di dunia ini dan apapun yg ada di dunia ini hanyalah bagian sekilas dari proses perjalanan kehidupan yg kita tempuh. Para penempuh perjalanan Ruhaniah menyadari betul tentang al-Ma’ad ini sehingga dapat menuntun mereka berjalan mendekati Allah SWT.

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya” (QS 22:5)

Insya Allah dengan barokah bulan suci ramadhan mari kita semua bersama-sama memahami hakikat al-Ma’ad untuk melintasi setiap fase kehidupan yg akan kita tempuh berikutnya. Semoga tulisan-tulisan singkat tentang hal ini di hari-hari suci bulan Ramadhan membantu kita menyucikan ruhani dan menaikkan derajat kita di sisi Allah SWT.

 

“Ma’rifat al-Ma’ad – 2”

(Memahami perjalanan Kehidupan setelah Kematian)

Melalui QS 22:5 Allah SWT memberikan bukti bahwa proses kehidupan manusia dari Tiada menuju Ada. Dari tingkat semata potensialitas yg ada pada tanah kemudian mengaktualitas berubah menjadi nutfah, berubah kembali menjadi segumpal darah dan seterusnya hingga menjadi manusia maka meneruskan kehidupan yg sudah ada pada tingkat berikutnya setelah kematian terjadi bukanlah persoalan yg mencengangkan.

Elemen yg menjadi sumber kehidupan pd diri manusia bukanlah fisik materinya karena fisik materi yg ada pada manusia tidak berbeda dgn fisik materi yg ada pd tanah, air, api dan uap.

Namun fisik menjadi bentuk yg sempurna kemudian hidup dengan segala aktivitasnya menunjukkan bahwa dibalik fisik ini ada elemen yg menjadi sumber kehidupannya yg disebut al-Ruh, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS 15:29)

Para Filosof muslim memaknai al-Ruh :

“Elemen halus yg bersifat non-materi dan menjadi sumber kehidupan bagi raga manusia”

Al-Qur’an sendiri membagi dua dimensi ciptaan ini ada yg material disebut “Alam al-Khalq”, dan yg non-material disebut “Alam al-Amr” “Ingatlah bahwa Ciptaan (الخلق) dan Perintah (الأمر) hanyalah hak Allah” (QS 7:54). Karenanyalah ketika ada yg bertanya tentang al-Ruh maka Allah menjawab bahwa al-Ruh adalah Al-Amr Tuhan (QS 17:85).

Karenanya perubahan bentuk yg terjadi pada diri manusia tidaklah menghilangkan kehidupan dari manusia tersebut. Yang terjadi semata Perubahan Bentuk tidak lebih.

Perubahan-perubahan inilah yg kadang kita sebut dg kematian. Jalaluddin Rumi dalam Syairnya berkata :

“Dahulu aku sebagai materi keras kemudian dihidupkan sebagai tumbuh-tumbuhan kemudian menjadi binatang kemudian menjadi manusia maka mengapa aku harus takut pd kematian karena setelah ini aku akan hidup dan terbang bersama para malaikat”.

 

“Ma’rifat al-Ma’ad – 3”

(Memahami Perjalanan Kehidupan setelah Kematian)

Al-Ruh istilah yg digunakan al-Qur’an kadang ditujukan untuk malaikat jibril (Ruh al-Quds (QS 2:87) Ruh al-Amin (QS 26:193)  dan kadang ditujukan untuk substansi yg menghidupkan manusia “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalmanya Ruh-Ku maka tundukah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS 15:29)

Al-Ruh karena merupakan sumber kehidupan yg non-materi maka dia tidak mengalami keteruraian seperti pada raga dan tidak juga mengalami kematian seperti pada kematian raga..

Setiap orang memiliki ruh spesifik yg merupakan jati diri orang tersebut. Sehingga Ruh nya merupakan substansi yg tetap tdk sebagaimana raga yg berubah. Atau kita bisa menyatakan bahwa raga dapat berubah-ubah namun karena Ruhnya tunggal maka dirinya tetaplah dirinya sekalipun terjadi perubahan berkali-kali dalam proses kehidupannya.

Karena Ruh bersumber dari elemen Ilahi “Aku tiupkan Ruh-Ku”, maka Ruh selalu ingin kembali kepada sumber dirinya yg tidak.lain adalah Allah SWT. Al-Qur’an memyatakan : “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS 84:6) Di dalam filsafat ada kaidah “Kamal al-Ma’lul fi al-Illatihi” (Kesempurnaan akibat ada pada sebabnya). Karenanyalah setiap akibat berusaha untuk menggapai sebabnya. Ruh, kesempurnaannya tidak lain pada Allah maka Ruh akan terus berusaha untuk mendekati Allah SWT.

Kita bisa melihat bahwa apapun yg dilakukan oleh manusia pd intinya adalah upaya dirinya untuk menggapai kesempurnaan.

Jalaluddin Rumi pd Matsnawi mengibaratkan “Dengarkanlah, Nyanyian pilu seruling bambu yg ingin kembali ke rumpun asalnya” Ruh kita semua berasal dari Allah dan selalu rindu untuk kembali kepada Allah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *