oleh

Renungan Tentang Mukjizat Al-Qur’an

TribunAsia.com

Oleh : Ustadz Dudung Jumantarisawan

Apakah al-Qur’an itu wajib membuktikan dirinya bahwa dia adalah sebuah mukjizat? Ataukah orang-orang mukmin yang wajib membuktikan bahwa al-Qur’an itu mu’jizat?

Jika diwajibkan bagi umat mukminin, maka tantangannya adalah bisakah kemukjizatan Al-Qur’an terbukti?

Apakah proposisi bahwa ; “al-Qur’an selalu memiliki i’jaz, dan i’jaz-nya tak pernah usang. agar tetap abadi kemukjizatannya” adalah pernyataan yang dapat dibuktikan?

Mengapa kita bertanya seperti itu? Karena;

Pertama: Pada masa turunnya al-Qur’an, orang-orang dimasa nabi Muhammad saww. sangat membutuhkan mukjizat, dan al-Qur’an telah membuktikan dirinya sebagai mukjizat. (Hal ini dapat dibaca buku-buku yang membahas macam-macam i’jaz al-Qur’an)

Kedua: Sekarang disadari atau tidak, kaum muslimin yang hidup dizaman kini, selamanya selalu dituntut untuk membuktikan relevansi kemukjizatan al-Qur’an dimasa sekarang….

 

KEBUTUHAN MUKJIZAT MANUSIA MASA KINI

FA’TU BI SHUROTIM MIN MITSLIHI

“Buatlah satu surat saja yang sama seperti al-Qur’an” (Al-Baqarah ; 23)

Apakah tantangan al-Qur’an kepada umat manusia untuk menciptakan satu saja surat yang sebanding dengan al-Qur’an hanya ditujukkan bagi kaum kafir qurays saja? Ataukah masih tetap abadi berlaku hingga sekarang?

Para ulama dimasa lampau telah menyepakati bahwa tantangan kepada orang-orang kafir untuk menandingi al-Qur’an adalah untuk menunjukkan tentang kemu’jizatan al-Qur’an.

 

Tujuannya adalah:

Pertama; untuk membuktikan bahwa nabi Muhammad saww. yang membawa al-Qur’an itu benar-benar seorang utusan Allah Swt.

Kedua; untuk membuktikan bahwa al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu Allah Swt, bukan buatan malaikat Jibril atau bukan karangan nabi Muhammad saww.

Nah,  jika tujuannya sebagaimana poin diatas, berarti umat Islam zaman now pun tercakup dalam tujuan abadi diatas. Yakni kebutuhan umat akan mukjizat Al-Qur’an.

Di zaman sekarang ini banyak orang mempertanyakan makna kemukjizatan al Qur’an yg telah dibahas pakar al-Qur’an dimasa lampau. Apakah mu’jizat (i’jaz al-Qur’an) itu masih berlaku bagi umat Islam di zaman yang modern ini? Beberapa pertanyaan-pertanyaan dikemukakan berikut ini;

 

1. Jika kemu’jizatan al-Qur’an itu berbentuk i’jaz balaghiy (dalam bentuk kesusastraan arab), maka kemu’jizatan al-Qur’an yang seperti ini rasanya hanya berlaku bagi orang-orang arab saja atau yang menguasai sastra Arab, karena al-Qur’an yang berbahasa arab dan itupun hanya dirasakan bagi orang arab yang mempelajari kesusastraan Arab. Lalu makna kemu’jizatan al-Qur’an apa yang dapat dirasakan bagi orang non-arab dan atau yang bukan ahli sastra arab?

 

2. Jika kemu’jizatan al-Qur’an itu adalah kemampuan al-Qur’an menjelaskan berita-berita ghaib dimasa lampau yang tidak diketahui oleh umat manusia yang hidup dimasa Rasulullah saww., contohnya seperti kandungan kisah nabi-nabi Bani Israil yang terdapat dalam al-Qur’an.

Namun bagi umat manusia zaman now, temuan-temuan arkeologis seperti temuan situs bahtera nuh, terbelahnya laut merah dalam kisah Musa as. seperti penjelasan ilmuwan berikut:

Laporan BBC (21/9/2010), Carl Drews dari US National Center for Atmospheric Research (NCAR) menyatakan;

“Terbelahnya perairan dapat dipahami melalui dinamika fluida. Angin menggerakkan air dengan cara yang sesuai dengan hukum fisika, membentuk jalur penyeberangan yang aman dengan air pada dua sisi dan kemudian tiba-tiba menutup kembali dengan segera.”

Temuan pakar ilmu sudah mengkonfirmasi kebenaran kisah-kisah tentang Nabi-nabi Bani Israil itu. Maka pertanyaannya kemudian adalah; apa makna kemu’jizatan al-Qur’an tentang informasi dimasa lampau yang mana lagi yang tidak dapat diketahui umat Islam di masa kini?

Jika bentuk mu’jizat al-Qur’an adalah i’jaz tarikhiy berupa ramalan al-Qur’an tentang informasi dimasa depan, seperti informasi yang terdapat dalam surat ar-Rum (1 – 4) tentang kekalahan dan kemenangan bangsa Romawi dalam peperangan atas bangsa Persia.

Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar-Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia.

Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.).

Namun pertanyaannya sekarang khususnya bagi umat islam di zaman now, peristiwa itu telah terjadi dan menjadi bagian sejarah di masa lampau. Lalu bagi kita yang hidup di zaman now ingin bertanya pada al-Qur’an; Ya Allah, ramalan al-Qur’an mana lagi yang masih tersisa untuk umat di masa kini sehingga kemukjizatan Al-Qur’an dapat kami rasakan?

 

3. Jika bentuk mu’jizat al-Qur’an itu adalah i’jaz ilmiy (berbentuk informasi pengetahuan atau sains), maka makna mu’jizat al-Qur’an yang mana lagi yang belum dijelaskan oleh sains dan kemajuan ilmu pengetahuan di zaman kini? Atau dengan kata lain, mu’jizat ilmiy Qur’ani yang mana lagi yang belum terkuak?

Banyak ulama maupun ilmuwan percaya bahwa beberapa ayat Al-Qur’an dapat ditafsirkan dengan menggunakan metode ilmu tajrubi (sains eksperimen).

Tujuannya ingin menunjukkan adanya kemu’jizatan al-Qur’an dalam dunia sains modern untuk meyakinkan kaum ateis yang ingkar terhadap keagungan al-Qur’an sekaligus juga memberikan kebanggaan kepada kaum muslimin.

Dasarnya adalah penafsiran ayat: “tibyanan likulli syaai“ (petunjuk yang menjelaskan segala sesuatu), yakni:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) petunjuk untuk menjelaskan segala sesuatu dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS: 16; 89)

Ayat ini ingin ditafsirkan bahwa al-Qur’an adalah sebuah “buku petunjuk segala sesuatu”, termasuk didalamnya soal sains.

Ambilah contoh kemu’jizatan ayat penciptaan manusia. Jauh sebelum ilmu kedokteran menjelaskan bagaimana proses kejadian manusia, al-Qur’an telah menerangkannya. Dan ini dianggap membuktikan kemu’jizatan saintifik al-Qur’an :

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Kemudian air mani (nuthfah) itu Kami jadikan segumpal darah (alaqah), lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging (mudhghoh), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang (mudhghoh ‘idzoma), lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging (lahman). Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS : 23;14)

Okelah, katakan bahwa letak kemu’jizatan al-Qur’an itu adalah pada kesesuaian ayat suci (saintifik) itu dengan penjelasan sains modern. Tapi yang jelas al-Qur’an bukanlah buku ensiklopedi sains yang memuat seluruh pembahasan saintifik.

Sebagaimana tantangan Allah kepada siapa saja yang bisa membuat satu ayat yang serupa dengan al-Qur’an ( fa’tu bi shurotim min mitslih).

Maka kaum ateis akan menjawab tantangan Allah swt. dengan menyatakan:

“Buat apa kami buang-buang energi untuk membuat ayat-ayat seperti al-Qur’an itu?, kami pun bisa membuat yang lebih ‘hebat’ dari ayat-ayat itu, kami bisa menciptakan makhluk hidup dengan cara “cloning” yang bahkan tak pernah dimuat dalam al-Qur’an, dan untuk menemukan cloning itu kami tidak perlu merujuk kepada al-Qur’an?”

“Tapi kan anda (ateis) enggak bisa menciptakan meskipun sebuah sel atau atom?” kata para ulama menyanggah.

“lho, memangnya sebelum Tuhan anda  mengaku telah menciptakan sel dan atom. Maka sel dan atom itu belum pernah ada? Darimana kamu tahu itu?” Sanggah kaum ateis. (yang berarti mengisyaratkan bahwa klaim keyakinan agama itu diluar pembahasan saintifik)

Nah pertanyaan kita terakhir adalah, kira-kira apakah metode i’jaz ilmiy (kemu’jizatan saintifik al-Qur’an) bisa digunakan untuk menundukkan klaim kaum ateis?

 

Wallahu A’lam.

Ustadz Dudung J.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *