oleh

Disporyata Depok Optimalkan Khazahan-Budaya Berkarakter

Depok, TribunAsia.com – Diusianya yang ke-20 dimana tanggal 27 April menjadi hari lahirnya, Kota Depok memaksimalkan dan merevitalkan khazahan dan budaya bernilai sejarah berkarakter. Dipaparkan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok, Wijayanto, pelestarian kebudayaan ini dilakukan secara simultan dengan pariwisata dengan saling mestimulan.

Dilaporkan Hendrik Raseukiy, Jumat (10/5). Banyak benda kebudyaan (khazanah) dan bukan benda (kesenian) masa depan yang lampau di Kota Depok menjadi fokus pelestarian oleh Disporyata dari yang berwujud benda dan bukan benda dan pribumi dan era kolonial Eropa.

banner 336x280

“Kita kembangkan khazanah-budaya yang berkarakter yang punyai nilai spririt, pengetahuan, kependidikan yang mehargai kebudidayaan karya tempo dulu dan mengambil pelajaran sejarah darinya. Dibidang kebudayaan kita juga membentuk tim identifkasi, sampai penetapan bagian dari peninggalan bersejarah. Untuk penetapan itu diperlukan penilai oleh tim cagar budaya kemudian mengusulkan kepada Disporyata menjadi bagian cagar budaya untuk selajutnya ditetapkan oleh wali kota,” jelas Wijay.

Berapa kebudayaan lama bentuk benda yang sudah dilakukan identifikasi seperti gong sibolong, sejumlah sumur-sumur tua yang punya nilai spiritual di ataranya Sumur Gendang, Sumur Tujuh, Mbah Wujud Beji, dan Makan Tetokoh di Tapos. Untuk khazanah era colonial ada jembatan panus, rumah tua cimanggis, kawasan depok lama, dan kawasan Jalan Pemuda di Kelurahan Depok.

“Itu yang benda, yang bukan benda ada di antaranya tari Topeng Cisalak, tarian Rebut Dandang, Lenong Depok. Beberapa strategi masif yang dilakukan, membentuk tim pakar, menunjuk petugas untuk menjaga atau memeliharnya. Kemudian kebudayaan ini dipromosisikan. Bisa jadi tidak bermakna kalau tidak dipromosikan sebagai cagar budaya,” Wijay menegaskan.

Wijay merangkul masyarakat turutama kalangan muda dan komunitas untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan cagar budaya ini.

“Kalau tidak dipromosikan, orang tidak tahu bahwa itu bagian dari cagar budaya yang tidak boleh diutak-atik atau main foto saja atau lakukan corat-coret. Sarana promosi dalam berbagai media seperti pamphlet, media massa, dan media sosial,” ujarnya.

Tak lepas dari konsentrasi Disporyata ialah mejadikan cagar budaya ini punya nilai tambah sebagai kunjungan wisatawan. Hal ini disinergikan dengan dinas terkain yaitu Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM), dan Satuan Polisi Pamomg Praja (Satpol PP). Dinas PUPR sebagai pembangun infrastruktur jalan ke kawasan cagar budaya, DUKM mefasilitasi perekonomian dan niaga barang kewisataan bagi masyarakat sekitar lokasi, dan Satpol PP berperan menertibkan keamanan dan merapikan bangunan liar yang merusak estetika kawasan wisata cagar budaya. (Hendrik Raseukiy).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *