oleh

Ramadhan ; Momen Reflektif

Jakarta, TribunAsia.com – Jeda Ramadan memberi momen refleksi diri, memulihkan tenaga rohani untuk membakar benalu yang mengerdilkan moralitas. Ramadan memberi kesadaran bahwa hasrat menimbun, berkuasa, dan berpengaruh tak pernah ada puasnya kecuali dengan puasa. Pengendalian dirilah akar tunggang pengendalian sosial. Adapun ibadah puasa bak kawah candradimuka pelatihan kendali diri

Ibadah puasa, merupakan suatu usaha pengosongan diri dari kekenyangan dan kejumudan, dengan mengajak setiap individu untuk berjarak dari tarikan rutinitas duniawi demi memulihkan realitas dunia.

banner 336x280

Situasi pengosongan merupakan pangkal pemulihan adikrisis sebab tantangan terberat dalam situasi krisis tanpa kepemimpinan yang kuat adalah bagaimana menemukan basis spiritualitas yang mendorong ke arah penyehatan politik.

Dari momen transendensi, yang meluluhkan sekaligus memperkuat diri, berturut-turut diharapkan bisa terengkuh pengetahuan/visi baru, ketegaran asketik, kemampuan empati, kelapangan altruistik, dan akhirnya kesadaran bahwa semua adalah satu.

Jika rasa sensibilitas dan sosiabilitas itu telah tertanam, tantangan selanjutnya ialah menghidupkan kembali jiwa politik. Menambatkan kembali politik pada jangkar moralitas. Sesuatu yang pada mulanya terintegrasi tetapi saat ini seperti air dengan minyak merupakan hal yang fundamental untuk mentransformasikan kehidupan politik kita

Di balik permukaan krisis ekonomi, sosial-budaya dan politik yang mendera, kita sesungguhnya tertanam penyakit spirit dan moralitas yang melanda jiwa bangsa. Kehidupan publik kita merefleksikan nilai-nilai moralitas kita, demikian pula sebaliknya. Sebegitu jauh, kehidupan politik selama ini lebih merefleksikan nilai-nilai buruk.

Oleh karena itu, kehidupan politik baru memerlukan pengukuhan sumber daya spiritual yang berakar pada tradisi luhur keagamaan dan kebudayaan. Dalam hal ini, kita dituntut untuk menyelamatkan pesan moral agama dalam kehidupan publik dari pengerdilan yang dilakukan dua ekstremis.

PERTAMA, kaum revivalis lewat politisasi agama yang kerap mengklaim bahwa Tuhan berada di pihaknya yang mengarah pada formalisme, triumphalisme, merasa benar sendiri, teologi kekerasan, dan memenjarakan Tuhan sebagai sesuatu yang partisan, yang akan membenarkan apa pun pilihan politiknya.

KEDUA, kaum ekstrem sekularis yang mengenyahkan Tuhan dari ruang publik, dengan berpretensi untuk memenjarakan agama di ruang privat yang memisahkan moralitas agama dari kehidupan politik.

Kita harus menekankan keterpautan yang erat antara spiritualitas dan politik, dengan tetap mempertahankan batas-batas otoritas agama dan negara sehingga terhindar dari kehidupan keagamaan yang dikontrol negara serta kehidupan kenegaraan yang didikte agama.

Tantangan ke depan, bagaimana mendukung diferensiasi agama dan negara tanpa memisahkan nilai-nilai Moral dan Spiritual dari Kehidupan Politik. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *