oleh

Akses Masuk di Tembok, Pemilik Tanah di Penjaringan Minta Pemerintah Turun Tangan

Jakarta, TribunAsia.com – Sulit menembus masuk ke akses tanah miliknya, Juliote meminta kepada pemerintah untuk turun tangan menyelesaikan dan membongkar tembok diperkirakan setinggi 3 meter di Jalan Kapuk Indah RT 02 RW 03 Kelurahan Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Penutupan menuju lokasi tersebut terjadi kedua kalinya dan disaksikan langsung oleh pemilik lahan yang turun ke lokasi pada Jum’at petang, 4 Maret 2019 kemarin.

Menurut Juliote istri dari The Tiau Hok yang memiliki sertifikat tanah Nomor 9258 itu yang telah memenangkan perkara perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Utara melawan Chandra Gunawan Cs.

“Kami menghormati hukum di Indonesia dari awal hingga proses setelah mengikuti aturan-aturan hukum, kita beli tanah dari ahli waris. Suami saya beli tanah dari ahli waris dan telah dilakukan pengukuran BPN,” keluh pemilik tanah, Sabtu (5/5/2019).

“Kami sudah meminta kepada mahkamah agung yang kemarin di menangkan agar dikuatkan kita memenangkan di Pusat dan di Utara dikuatkan putusan serta merta dan berhasil eksekusi. Hakim mengembalikan sekarang keputusan itu dilecehkan (lawan) kami minta aparat negara tertinggi dan memantau oknum dan segera diluruskan memberikan kepastian hukum kepada kami dan dibukakan jalan untuk kami untuk bisa menjalankan usaha kami,” jelas Juliote.

Kendati demikian, penutupan jalan yang pernah dilakukan pembongkaran atau dieksekusi pertama kali oleh petugas PN Jakut dan dimenangkan kepada pemilik sertifikat tersebut. Ia menjelaskan juga ketika eksekusi lalu sempat terjadi keributan hingga terjadi pemukulan dan kini kembali akses jalan masuk kelokasi tanah miliknya itu sudah dipagar tembok kembali.

“Kami laporkan dia (Chandra Gunawan) ke polisi sekarang dia ditetapkan menjadi tersangka karena merusak plang kami. Sampai sekarang di Jakarta Pusat kami di menangkan juga sampai di diterbitkan sertifikat itu dia tidak bisa menunjukkan kepemilikannya dia nyatakan kalah terus kemarin hakim tinggi kami dikuatkan,” tambahnya.

Dia berharap kepada pemerintah segera mengambil tindakan atas bangunan tembok yang sengaja menghalangi akses pintu masuk kelokasi tempat usahanya tersebut dapat ditertibkan. Atas penutup jalan diberbagai sisi itu, dia menilai pihak lawan yang kalah dipengadilan tidak menghormati proses hukum yang berjalan dan dimenangkan oleh pengadilan karena dirinya memiliki sertifikat yang sah.

“Kami mempunyai sertifikat jadi selama ini  tembok. Kami minta agar segera di tuntaskan undang-undang pokok agraria sudah jelas. Sedih sertifikat yang terbit harus ada fungsi sosial di Jakarta ini tidak ada fungsi sosial bagi saya, semua RT RW Lurah tahu kenapa ada pembiarharaan kami sudah semua bersurat kami minta keadilan,” ujarnya. (Dw)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *