oleh

Alasan Menang Tender di Sudin Damkar Jaktim, Terdakwa Tipu PT Indolok Bhakti Utama dengan Cek Kosong

Jakarta, TribunAsia.com – Beralasan memenangkan tender pengadaan alat pemadam api ringan (Apar) pada Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Damkar) Jakarta Timur, Terdakwa Achmad Fadlan menipu PT Indolok Bhakti Utama.

Distributor tunggal penyedia alat pemadam api ringan (Apar) merasa dirugikan karena Achmad Fadlan yang sebelumnya membuka (purchase order) PO terhadap PT Indolok Bhakti Utama dengan pembayaran down payment (DP) senilai yang disepakati sebesar 10 persen dari total harga pesanan tabung pemadam Rp 771 juta.

Menurut keterangan Yenny Meilina, Achmad Fadlan selalu ingkar janji ketika dimintai pelunasan pembayaran alat pemadam yang dipesannya tersebut. Bahkan, saksi sekaligus sales Tradding atau fire and safety solusion control membeberkan didepan Majelis Hakim PN Jaktim yang bersangkutan telah melakukan pembayaran dengan cek kosong.

“Pak Achmad pemenang tender. Hasil negosiasi terkait payment DP negosiasi itu minta 10 persen, pada saat PO kami meminta DP 10 persen. Awalnya dikasih cek kosong tidak ada isinya. Kalau dari orang saya langsung ke finance orang finance bilang cek Pak Achmad selalu kosong, Pak Achmad Fadlan yang bertanda tangan,” jelas saksi Yenny diruang sidang, Selasa (30/4/2019).

Akibat dari pembayaran yang belum terlunaskan oleh Terdakwa, saksi yang berprofesi sebagai sales harus bertanggung jawab penuh terhadap perusahaan ditempat kerjanya. Kata Yenny, dirinya dipotong gajinya tiap bulan oleh pihak kantor dengan alasan untuk melunasi sisa kekurangan pembayaran order tersebut dari Terdakwa.

Sementara, Majelis Hakim PN Jaktim mempertanyakan mekanisme proses pemesanan Apar hingga pembayaran yang disepakati sesuai prosedur perusahaan kepada saksi. Dia juga menambahkan, ketika itu Terdakwa melakukan pemesanan langsung dengan saksi pada saat terjadi transaksi tabung pemadam api ringan dengan ukuran 6 kapasitas kilo gram.

“Jadi yang memesan berhubungan langsung dengan saksi ya. Ini kebiasaan dalam perusahaan saksi bagaimana dengan pembayaran cek saya kembalikan lagi ke salesnya,” kata Muarif, SH selaku ketua majelis hakim.

Perlu diketahui, awal kejadian penipuan itu dijelaskan dalam persidangan pada tahun 2014 lalu. Disampaikan juga oleh tim Majelis Hakim saat memintai keterangan saksi yakin dan percaya kepada Terdakwa ketika meminta order alat pemadam tersebut.

“Apa yang membuat keyakinan itu, apakah ada jaminan, timbul kepercayaan apakah dia berbohong,” tanya Sutikna, SH.

Akan tetapi, saksi Yenny menjelaskan kembali dimeja hijau dan kejadian itu baru diketahui setelah dirinya melakukan kroscek terhadap Terdakwa yang telah dikonfirmasi telah memenangkan tender bahwa yang bersangkutan hanya meminjam bendera (pinjam atas nama perusahaan).

Kejadian pembayaran menggunakan cek kosong baru kali pertama ditemukan oleh saksi semenjak bekerja dan dirinya tidak pernah mempertanyakan kepada konsumen tentang tujuan barang tersebut yang akan diorder. Terlebih, dia mengutarakan calon konsumennya tetap akan dilayani baik perorangan maupun instansi perusahaan.

“Saya konfirmasi pemenang tender itu benar Pak Achmad. Saya tidak tahu kalau dia pinjam bendera. Kalau dari saya tidak tau mau tau orang itu mau pake PT apa tetapi orang itu PO, baru kali ini ada cek kosong,” imbuh saksi. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *