oleh

Peluang Presiden

TribunAsia.com

Oleh : Tendri

Kejaksaan Negeri Jakarta Timur - ZONA INTEGRITAS (Wilayah Bebas Korupsi)

Hari Kamis tanggal 11 April 2019, kita dikejutkan berita ditemukannya surat suara yang sudah ditusuk sebanyak 541.024  suara, di ruko sungai tangkas bandar baru dan tamar kujang utama, Malaysia.

Kedua kubu saling menuduh, bisa saja dilakukan pihak 01 bisa juga pihak 02. Curang itu naluri setiap orang. Main congklak adik kakak saja suka curang, apalagi memperebutkan kursi presiden.

Tetapi menurut panitia pengawas pemilu ( Panwaslu) di Malaysia yang diwawancari oleh TV one, surat suara dan gembok kotak suara asli, sama dengan yang punya Komisi Pemilihan Umum ( KPU ). Tinggal kita menganalisa pihak mana yang kira- kira yang paling punya kekuatan untuk mempengaruhi Komisi Pemilihan Umum ( KPU).

Menurut anggota Badan pengawas pemilu ( Bawaslu) Rahmad Bagja di CNN on line, sudah lama mengendus niat tidak baik panitia pemilihan luar negeri ( PPLN) di Malaysia. PPLN menolak saat Bawaslu hendak menempatkan pengawas pada kotak suara keliling ( KSK). Bawaslu juga  sudah berkirim surat ke KPU agar duta besar Rusdi Kirana diganti dari kepengurusan PPLN karena akan timbul konflik kepentingan. Anaknya Davin Kirana caleg DPR RI dari partai Nasdem, dapil dua DKI Jakarta yg meliputi Jakarta pusat, Jakarta selatan dan luar negeri.

Pada tanggal 16 Maret 2019, saya bertemu dengan teman, dia salah satu tim pemenangan Jokowi. Menurut dia hasil survey internal, Jokowi menang 53 %. Dan menurut negara yang mendukungnya itu bahaya, karena margin kesalahan survey 3 %. Bisa keatas dan bisa kebawah, kalau keatas menjadi 56 % berarti aman. Tapi kalau kebawah menjadi 50 % gawat. Pihak 02 akan mengadu ke Mahkamah Konstitusi ( MK ), pemilu diulang dan meminta negara asing untuk memantau.

Saya sarankan kepada teman saya, untuk menaikan hasil survey Jokowi jangan lagi jualan issu HTI, karena swing voters yg waktu itu sekitar 13 % adalah anak melinea yang 99 % beragama Islam.

Pilihan pemilih sudah terkunci dan tidak mungkin saling mengambil lagi antara 01 dan 02. Para pengusaha sudah terbagi, ada di 01 dan ada di 02. Jokowi didukung sebagian besar warga Nadilyin, pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI P) fanatik dan pemilih non muslim.

Sementara Prabowo didukung pemilih yang sering sholat subuh di masjid, jamaah ulama yang tergabung dalam ij’tima ulama. Pemilih fanatik dan binaan Partai Keadilan Sejahtera Indonesia ( PKS) dan pemilih Islam yang tidak terlalu taat tapi merasakan sulitnya berbisnis dan mencari nafkah di era Jokowi.

Untuk merebut swing voters itu bagaimana Jokowi bisa memanfaatkan slank dan Dilan disisa masa kampanye. Bagusnya di pihak Jokowi ada sosok milenial dan beragama Islam. Tapi sayang sampai sekarang tidak ditimbulkan, kalau mengharapkan Jokowi dan kyai Ma’ aruf Amin agak sulit untuk menggaet suara anak muda.

Sementara di 02 ada Nissa Sabyan penyanyi muslimah yang melineal. Ditambah Sandiaga Uno menempatkan dirinya sebagai anak melenial.  Sebelum kampanye dia lari pagi, main basket, senam aerobik bersama mak-mak, bernyanyi di panggung, shalawat nabi di panggung dan bisa joget rap.

Tanggal 29 Maret 2019, tiba- tiba AM Hendro priyono mengeluarkan pendapat bahwa, “pilpres kali ini pertarungan khilafah dan pancasila”. Pernyataan ini merugikan pihak Jokowi, karena Swing voters yang 13 % tadi 99% beragama Islam, akan melawan dalam bentuk memimilih, kalau masalah khilafah diungkit dan dijelekan. Bagaimanapun juga khilafah itu adalah pemerintahan produk agama Islam yang bersumber dari Al’quran.

Pada tanggal 7 April 2019,  ratusan ribu manusia tumpah di Gelora Bung Karno ( GBK). Sedikit banyaknya gerakan massa berkumpul dengan biaya sendiri ini ada pengaruhnya.

Pada hari kamis sore tanggal 11 April TV one mengeluarkan dialog prabowo dan ustadz Abdul Somad. UAS menjelaskan bagaimana jamaahnya yang selalu mengacungkan dua jari saat di berceramah di seluruh Indonesia. UAS juga menjelaskan beliau sudah bersilahturahmi dengan tiga kyai kampung yang tidak viral, tapi sudah wali. Ketiganya menyebut nama Prabowo. UAS memegang dada prabowo dan berzikir Laillahhaillallah. Disitu terlihat UAS mencoba merasakan kejujuran dan ketulusan Prabowo. Disamping itu UAS mau menunjukan bahwa umarah dibawah Ulama. Ulama tidak boleh jadi bawahan umarah. Karena Ulama adalah penerus Rasulullah di dunia ini. Ditambah UAS meminta kalau Prabowo menang, jangan undang UAS ke istana dan jangan tawarkan jabatan kepada UAS. Biarkan saya jadi ustadz yang keliling kampung. “Tugas saya hanya menyampaikan*, kata UAS. sesudah menyampaikan tugas saya selesai, semuanya diserahkan sama Allah.

Kampanye terbuka prabowo Sandi dan dialog prabowo dengan UAS sangat berpengaruh di swing voters yang saat ini maksimal tersisa 8 %. Apalagi kredibilitas UAS sangat disenangi masyarakat, karena UAS  menolak saat diminta menjadi calon wakil presiden. UAS beralasan setiap orang ada bidangnya masing- masing.

UAS tunduk benar dengan filosofi kepemimpinan dalam Islam. Didalam Islam ada perintah, kalau kamu diminta untuk jadi pemimpin, ternyata ada orang lain yang lebih mampu dari kamu, kamu tetap mau memimpin, maka kamu berdosa. Bila kamu diminta untuk jadi pemimpin, kamu mampu dan tidak ada orang lain yang lebih mampu dari kamu, tapi kamu tidak ambil kepemimpinan itu, maka kamu berdosa. Jadi pemimpin itu bukan untuk diperebutkan, karena pertanggung jawabannya berat dalam Islam.

Efek komunikasi ini terbukti dengan kemenangan Anis Baswedan di pilkada DKI. Sepuluh hari sebelum hari pemilihan Zakir Naik didatangkan oleh cina mualaf ke Indonesia. Ketika jamaah bertanya soal memilih pemimpin non muslim, Zakir Naik tegas menjawab hukumnya haram. Tetapi jamaah membantah, ada ulama Indonesia bilang boleh. Zakir Naik menjawab, kalau kamu mengikuti Al’quran maka haram. Kalau masih ingin memilih pemimpin non muslim maka tinggalkan Al’quran.

Kita lihat sabtu tanggal 13 April 2019 kampanye terbuka Jokowi di GBK dengan slank dan puluhan artis. Kalaupun ramai tidak akan berpengaruh banyak di swing voters karena di media sosial telah beredar surat pengerahaan pegawai BUMN. Apalagi kampanye Jokowi sudah kalah start dengan kampanye Prabowo di GBK, opini sudah terbentuk untuk Prabowo, perlu kerja keras untuk mengalahkan opini itu.

Bawaslu dan pihak yang berwenang harus menyelesaikan kasus surat suara yang sudah ditusuk di Malaysia. Kalau 02 yang mensetting kasus ini maka akibatnya fatal buat 02. Tapi kalau pihak 01 yang mensetting atau pihak yang berwenang mendiamkan kasus ini, maka swing voters tidak akan memilih 01.

Kemenangan pilpres.tidak hanya ditentukan oleh; kampanye, debat capres, mesin partai dan militannya relawan. Tapi ada faktor X diluar kejujuran dan besarnya nafsu untuk berkuasa.

Kalau pihak 01 bisa memaksimalkan para gubernur dan bupati pendukungnya. Para bupati menggunakan kepala dinas, camat, pegawai negeri sipil dan kepala desa untuk mempersuasif pemilih di TPS nya masing- masing, maka Jokowi akan memenangkan pilpres ini.

Kalau rakyat tidak mau dipersuasif kepala dinas, camat, pegawai negeri dan kepala desa, maka Prabowo memenangkan pilpres 2019.

Ditangan anda semua dan kehendak Allah, lahir seorang presiden.  Selamat memilih tanggal 17 April 2019. Siapapun yang menang, itulah presiden kita. Pendukung pihak yang kalah harus legowo menerimanya. Perlehatan lima tahunan ini sudah selesai. Mari kita rekatkan kembali persaudaraan kita sesama anak bangsa, yang mungkin retak oleh ego dan fanatik dukung capres selama ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *