oleh

Antisipasi Kecurangan Suara Rakyat di TPS

Jakarta, TribunAsia.com – Sering kali pada setiap pesta demokrasi masyarakat mengkhawatirkan terjadinya kecurangan di TPS. Kekhawatiran itu beralasan karena masyarakat kita terlalu lama disuguhkan praktik kecurangan di TPS pada pemilu-pemilu sebelumnya, terutama pada zaman Orde Baru dan di awal reformasi. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, KPU terus memperbaiki kualitas penyelenggaraan sejak rekapitulasi dimulai di TPS.

Pada Pemilu 2019, di TPS akan sulit untuk melakukan praktik kecurangan. Di dalam TPS, terdapat dua saksi pasangan capres/wapres, saksi DPD, dan 16 saksi partai politik ditambah satu pengawas TPS. Di luar TPS, selain masyarakat, juga terdapat pemantau pemilu yang mengawal proses rekapitulasi tersebut.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Bahkan, KPU juga membenarkan masyarakat mengabadikan pro­ses penghitungan suara di C1 plano yang ditempel di TPS. Proses menjaga kualitas sua­ra rakyat juga dilakukan KPU dengan model pindai C1 tiap TPS.

Proses itu bertujuan agar hasil rekapitulasi di tingkat TPS dapat diakses publik lebih cepat dari rekapitulasi berjenjang dari PPK hingga KPU kabupaten/kota atau provinsi dan nasional.

Pindai C1 hanya sebagai perbandingan meskipun pada banyak pemilihan nyaris perbedaan antara C1 scan dan rekapitulasi berjenjang tidak ada.

Sayangnya, di tengah KPU mencoba memperbaiki sistem keterbukaan informasi perolehan suara, justru beredar video seolah-olah server KPU telah dibobol untuk memenangkan salah satu pasangan calon presiden.

 

Mengukur Waktu Coblos

Dalam berbagai proses simulasi pemungutan dan penghitungan suara yang dilakukan KPU, diperkirakan waktu yang digunakan seorang pemilih di TPS berkisar 3-5 menit.

KPU menyiapkan empat bilik suara di tiap TPS. Dengan asumsi bahwa semua pemilih di TPS yang berjumlah 300 orang hadir semua, jumlah waktu yang digunakan empat pemilih diperkirakan 6-7 jam. Artinya, pencoblosan diperkirakan selesai pukul 14.00 WIB. Pada setiap pemilu, waktu seperti itu masih tergolong normal. Titik fokus perhatian sebenarnya pada proses penghitungan suara.

Berbagai simulasi menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan KPPS untuk menyelesaikan proses penghitungan diperkirakan sampai pukul 02.00 WIB dini hari.

Bagaimana bentuk pengawasan?

Kita bisa menghitung berapa orang yang terlibat langsung dalam proses penghitungan suara di TPS jika mengambil studi kasus. Dalam regulasi pemilu disebutkan, orang yang berada di dalam TPS ialah 2 orang saksi dari pasangan capres/wapres, 16 orang saksi partai politik, saksi DPD, dan 1 orang pengawas TPS.

Dengan jumlah orang yang seperti itu apakah masih akan terjadi kecurangan di TPS?

Apakah masyarakat yang memantau di luar TPS proses penghitungan suara ialah orang-orang yang apatis terhadap kecurangan?

Jika sudah sedemikian Ketat, Transparan, dan Efektifnya Pengawasan, semestinya usaha-usaha untuk menurunkan derajat kepercayaan kepada KPU pantas kita curigai Motivasi dan Maksudnya. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *