oleh

Kuncen Makam Kesultanan Demak Sebut Raden Fatah Menjabat Selama 20 Tahun

Demak, TribunAsia.com – Pengurus komplek pemakaman Kesultanan yang terdapat di Kabupaten Demak, Jawa Tengah menyampaikan jumlah istri dan keturunan dari Kerajaan Majapahit. Menurut Faturahman di sekitar pemakaman kerajaan yang berdiri megah Masjid Agung Demak mengatakan, Raja Majapahit memiliki istri sebanyak 40 orang dan memiliki anak diperkirakan mencapai 100 orang.

“Kalau usianya saya kurang tahu (wafat) kalau masa jabatannya (memimpin) beliau itu Raden Fatah sekitar 20 tahun kemudian (digantikan putranya) Adi Patih Unus menjabat selama 4 tahun,” jelas kuncen makam kesultanan Demak kepada TribunAsia.com, Minggu (6/4/2019).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Namun demikian, pengurus makam kerajaan Islam tersebut tidak merinci secara luas siapa saja istri yang dimaksud dan asal-usul dari istri Almarhum Raden Fatah. Diketahui, Raden Fatah dikenal sebagai sosok berpengaruh dalam penyebaran agama Islam pertama di pesisir Pulau Jawa sekitar pada abad ke-15 M.

“Kalau kerajaan Majapahit itu kan istrinya 40 anaknya 100, jadi putra yang jelas nggak tahu, kalau Kerajaan Majapahit dari Putri Camba itu satu saja anaknya itu Raden Fatah,” tambah dia.

Kemudian, kata Faturrahman yang membimbing pengunjung ziarah situs sejarah perkembangan penyebaran Islam terpesat di pulau Jawa. Ia pun menjelaskan, silsilah tahta kerajaan dan peralihan kepempimpinan setelah wafatnya Raden Fatah.

Sekedar informasi, sebelum Demak menjadi pusat kerajaan, dulunya Demak merupakan Kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit (Brawijaya) dan sebelum berstatus Kadipaten, lebih dikenal orang dengan nama “Glagah Wangi “. Yang menjadi wilayah Kadipaten Jepara dan merupakan satu-satunya kadipaten yang Adipatinya memeluk agam Islam.

“Raden Fatah Bapaknya Raden Patih Unus, Raden Trenggono anaknya Raden Patih Unus,” tutur kuncen berambut gondrong di makam.

Namun dijelaskan, kata Jaksa yang sekarang duduk di kursi Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah sebagai Koordinator menuturkan kedatangan mereka bersama institusi dari Kejari Jaktim untuk mengingatkan kembali atas jasa-jasa para leluhur baik dalam penyebaran agama Islam maupun para Pahlawan yang telah mendahului.

“Tujuan ziarah itu bukan untuk meminta berkah kepada para wali tidak, tapi mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan cara mengingat mengingat jasa-jasa para para wali yang penyebarluasan agama Islam,” tandasnya.

Akan tetapi yang perlu diketahui, saat kegiatan ziarah berlangsung diisi dengan pengajian dan memanjatkan lantunan doa bersama. Untuk itu Muchlis pun menekankan selama perjalanan yang dimulai pada Jum’at petang tanggal 5-7 April 2019 sebagai momen memperbaiki diri terutama beribadah.

“Sebagai catatan diri di tempat penziarahan dan mengisi dengan pengajian-pengajian. Dari Jakarta Timur dilaksanakan ke Sunan Gunung Jati, Cirebon dilanjutkan ke tempat penziarahan Sunan Gunung Jati ke Demak dan shalat Subuh juga nanti disana,” ungkap mantan Kasipidum Jaktim. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *