oleh

Kasus Pemalsuan Akte Autentik Memiliki Istilah Musang Mencuri Ayam Justru Kambing yang Dipukuli

Jakarta, TribunAsia.com – Kasus pemalsuan surat akte autentik dengan Terdakwa Tomy yang kini tengah menjalani proses hukum di PN Jaktim, Tim Kuasa Hukum menyebutkan istilah terhadap kliennya bahwa musang yang mencuri ayam namun demikian justru malah kambing yang berada dikandang dipukuli.

Melalui Law Office Sinurat-Simaremare & Partner menyampaikan disela-sela persidangan kliennya tidak pernah melakukan pemalsuan surat yang mana didakwakan jaksa penuntut umum (JPU) dengan Pasal 263 ayat (2) atau Dakwaan kedua Pasal 263 ayat (1) KUHP.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Musang mencuri ayam kambing di kandang yang dipukuli. Pada peristiwa pencurian itu yang di curi ayam tapi bukan kambing pelakunya ada pemalsuan itu,” tegas A Hamonangan Sinurat, SH MH kepada TribunAsia.com, Selasa (2/4/2019).

Rosenty K Simaremare, SH CN menambahkan, Pasal yang digunakan penuntut umum tidak pernah dilakukan oleh Terdakwa Tomy. Namun, dia turut memaparkan kliennya tidak pernah menggunakan surat-surat palsu. Karena, kata Rosenty berkas yang diketahui dan diterimanya bukan dalam bentuk surat yang aslinya melainkan foto copy.

“Dakwaan jaksa penuntut umum itu tidak terbukti pasal 263. Apalagi menggunakan surat palsu tersebut jadi tidak terbukti dakwaan Jaksa pasal 263-nya,” kata tim kuasa hukum Terdakwa.

Dikatakan lagi oleh Kuasa Hukum, selain Hari Santoso selaku pelapor, dia menyatakan saksi dari Notaris Rita Imelda Ginting, SH tidak tertuju kepada Terdakwa Tomy tentang pembuatan surat yang tidak sesuai prosedur.

“Jadi saksi notaris itu, notaris Rita itu tidak ada yang tertuju kepada Tomy. Selain Hari Santoso pelapor itu tersendiri, jadi tidak ada yang menunjukkan terkait terdakwa ini pembuatan pemalsuan tersebut,” tandasnya.

Kemudian, dalam proses pembuatan kepengurusan akta Terdakwa Tomy tidak pernah membuat atau menandatangani perubahan atas kelima Perusahaan Tambang. Terlebih kata dia, tiada satupun yang pernah menghadap serta mendatangi kantor Notaris tentang hal tersebut.

Sekedar informasi, kelima (5) Perusahaan yang diduga dialihkan melalui akta tersebut diantara PT Pertambangan Bumi Indonesia, PT Citra Bumi Minerindo, PT Eka Bumi Indonesia, PT Bumi Sulawesi Persada Mining dan PT Bumi Minerindo Ekatama.

“Tidak ada satupun menghadap yang datang baik Hari Santoso, Hon Khong ini pun tidak pernah menghadap notaris tidak pernah kenal dengan Tomy,” ungkapnya.

“Harapan kita (tim) sebagai penasehat hukum sesuai dengan fakta dari saksi-saksi yang ada di persidangan tidak satupun terkait Tomy ini tidak tidak ada sama sekali. Kalau dari klien kami tidak ada satu fakta pun mengarah ke sana. Inilah salah satu tugas penyidik maupun jaksa di sini ada yang putus berkas itu diterima hanya foto copy,” paparnya kembali.

Maka daripada itu, Joni yang dimaksud Rosenty saat ini telah meninggal dunia dan kasus pemalsuan yang menerpa kliennya dianggap terputus karena tidak jelas akar permasalahannya. Terapi, dirincikan lagi oleh Tim Kuasa Hukum tentang manajemen pada Perusahaan tersebut masih dikendalikan pelapor bukan pada klienya.

“Manajemennya juga masih dikuasai oleh pelapor Hon Khong jadi terdakwa ini tidak mengambil keuntungan atau mempergunakan surat itu,” terangnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *