oleh

Islamophobia dan Nasionalisme Kulit Putih Akar Penyerangan New Zealand

Jakarta, TribunAsia.com – Tindakan terorisme berupa penembakan brutal di Masjid An-Noor New Zealand, mendapat sorotan khusus dari Direktur The Islah Centre, Mujahidin Nur, penyebab  pertama, menguatnya gelombang Islamofobia atau di negara-negara barat. Islamophobia adalah istilah yang menunjukkan sikap takut sekaligus benci terhadap Islam dan umat Islam. Istilah ini mengemuka pada pertengahan 90-an abad lalu setelah muncul dalam tulisan yang dirilis sebuah lembaga sipil Inggris yang dipimpin seorang Muslim yang juga wakil rektor Universitas Sussex, Inggris.

“Dalam tulisan itu, Islamophobia dijelaskan sebagai prasangka, rasa takut, dan kebencian terhadap Islam dan umat Islam” jelasnya di Jakarta, Senin (18/3).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Masih menurut Mujahidin Nur, penyebab kedua, pembunuhan massal terhadap umat Islam di Masjid itu adalah menguatnya ideologi nasionalisme kulit putih ( ideology of white nationalism) yang berkembang dan mengglobal ke berbagai Negara Barat, karenanya, tentu saja agar teror terhadap umat Islam di Barat ini tidak terjadi lagi negara-negara Barat para pemimpin di negara-negara Barat harus menangani masalah ini dari sumbernya.

Mujahidin Nur menambahkan sumbernya bisa kita dapatkan dari pernyataan Brenton Tarrant, sebelum melakukan pembunuhan massal terhadap umat Islam, Brentton Tarrant, memposting di media sosial pribadinya apa yang disebut manifesto sebagai Ideology of White Nationalism (ideologi nasionalisme kulit putih).

“Itu berarti Brentton Tarrant dan pelaku pembunuhan terhadap umat Islam lainnya di New Zealand meyakini bahwa Islam dan umat Islam adalah ancaman yang bisa menghancurkan Peradaban Barat (wetern civilization)” imbuhnya.

Para pemimpin negara Barat juga hendaknya ingat peristiwa teror yang dilakukan oleh Anders Breivik yang membunuh 77 orang di Nor Wegia pada tahun 2011 juga terjadi karena ia terinspirasi manifesto setebal 1500 halaman ini. Dalam pengakuannya, Breivik ingin menghukum Eropa karena multikulturalismenya dan karena penerimaan Eropa terhadap imigran Muslim.

Manifesto ini juga yang menginspirasi Christhoper Hasson yang baru-baru ini ditangkap karena menimbun senjata untuk melakukan pembunuhan massal utamanya pada umat Islam.Manifesto ini pun menguat dan diperparah dengan kebijakan Presiden Amerika terpilih Donald Trump  (2017) yang melarang imigran Muslim dari Iran, Libya, Suriah, Somalia, Sudan dan Yaman, sehingga Islamophobia makin populer dan menguat dibarengi dengan sentiman dan kebencian terhadap imigran Muslim.

Bahkan,  Donald Trump dalam banyak kesempatan juga mempromosikan kebijakan anti Islamnya ke berbagai negara termasuk ketika ia melakukan kunjungan musim panas ke Inggris. Donald Trump mengatakan, “Inggris telah kehilangan budaya aslinya, para imigran telah mengubah kebudayaan Inggris dan negara-negara Eropa.

Karenanya, tidaklah heran, Menurut Mujahidin Nur, apabila pelaku pembunuhan massal terhadap Umat Islam dalam pengakuannya ia memuji Presiden Donald Trump sebagai simbol identitas kulit putih.

“Kelak dipengadilan, Brentton Tarrant dipengadilan tidak akan menyesal dengan terorisme yang merenggut 49 nyawa muslim New Zealand bahkan mungkin ia akan merasa bangga dan bahagia, karena ia memiliki tujuan yang sama dengan Donald Trump yakni mengurangi jumlah imigran muslim di New Zealand” pungkasnya.

Apabila negara-negara barat tidak secepatnya mengambil tindakan untuk meredam Islamophobia dan meredam ideology of white nationalism, maka kedepan berbagai peristiwa teror dan pembunuhan terhadap imigran akan banyak terjadi baik itu di Eropa, Amerika ataupun Australia, dan itu sangat memungkinkan karena banyaknya politisi dan media-media anti Islam yang menyuarakan kebencian terhadap umat Islam di Barat sampai saat ini.

Mujahidin Nur mencontohkan di tengah kepedihan atas tragedi kemanusiaan pada umat Islam, senator Australia, Frasser Anning malah menyalahkan program migrasi yang memungkinkan umat Islam memasuki New Zealand dan menempatkan mereka sebagai bagian dari masyarakat New Zealand.

“Sudah waktunya para politis dan media-media barat untuk menyelesaikan ideologi yang akan menjelma menjadi terorisme global di negara-negara Barat (Islamophobia dan ideology of white nationalism) ini sebelum ideologi ini makin menguat dan akan menjadi masalah sosial dan keamanan di negara-negara barat” terangnya.

Untuk meredam ideologi itu, negara-negara Barat perlu melakukan sinergi maksimal dengan media dibantu dengan organisasi-organisasi Islam, dan lembaga-lembaga pendidikan untuk menekan gelombang Islamaphobia. Pelibatan media, menurut Mujahidin Nur mutlak diperlukan karena medialah yang mempunyai peran vital dalam mentransformasikan informasi kepada masyarakat tanpa batas ruang dan waktu. Kecepatan media dalam melakukan reportase mampu memberikan pengaruh yang cepat pada pembentukan pola pikir masyarakat.

Disamping itu, media juga mempunyai peran yang sangat dominan dalam penyebaran Islamophobia, ideologi nasionalisme kulit putih dan supermasi kulit putih di negara-negara Barat. Karenanya, pada sisi yang sama, media bisa digunakan untuk menjadi instrumen yang strategis dalam menyelesaikan masalah ini dengan tidak mengaitkan berbagai kejadian teror dan pemboman dengan agama tertentu. Karena terorisme, dimana pun dan siapa pun pelakunya, tidak ada kaitannya dengan agama yang mereka anut.

Para pemimpin Negara Barat harus meyakinkan masyarakatnya bahwa Islam dan Barat bisa hidup berdampingan dalam harmoni dan perdamaian, sebagai buktinya  para pemimpin Negara Barat hendaklah ingat betapa besar kontribusi umat Islam dalam kemajuan peradaban mereka, itu adalah bukti yang tidak dapat dinafikan bahwa Islam dan peradaban Barat bisa bersinergi dan tidak saling menghilangkan identitas satu sama lain. (ZNR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *