oleh

Orang Paling Beruntung dalam Islam

Jakarta, TribunAsia.com – Mayoritas kalangan manusia meyakini keberuntungan diukur dengan materi, semakin seseorang kaya maka beruntunglah ia, lalu seperti apa Islam memandang konsep keberuntungan. Ternyata Islam memiliki sudut pandang sendiri tentang manusia yang dinilai paling beruntung.

Ukuran keberuntungan dalam Islam tidak didasarkan pada seberapa banyak materi yang dimiliki seseorang, melainkan sejauh mana tingkat keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Penegasan tersebut disampaikan Khatib Jumat, Ustadz H Abdul Somad di Masjid Uswatun Hasanah, Galur, Jakarta Pusat.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Secara jelas dalam Islam ditegaskan bahwa manusia paling beruntung adalah yang paling tinggi tingkat keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya” ucapnya dihadapan jamaah, Jumat (15/3).

Keimanan kepada Allah diwujudkan dengan benar-benar meyakini dan mengamalkan bahwa Allah adalah Tuhan yang tunggal, tidak ada sekutu baginya.

“Allah yang maha agung telah mempersaksikan diri-Nya bahwa tidak ada Tuhan selain diri-Nya, tidak ada Tuhan dari golongan manusia” sambungnya.

Keimanan kepada Allah tidak bisa berhenti pada perkataan semata, tidak juga hanya dibatasi pada ibadah bersifat ritual, lebih dari itu semua ruang kehidupan manusia mesti dijadikan ladang penyembahan kepada Allah SWT.

Agar keimanan kepada Allah bisa sempurna maka dibutuhkan ilmu, manusia harus sungguh-sungguh menggali ilmu agar pahamannya sebagai hamba Allah bisa bertambah.

“Ilmu akan menyempurnakan keimanan seseorang kepada Allah, harus giat memperdalam ilmu” imbuhnya.

Saat seorang hamba fokus menekuni ilmu, maka ilmu yang dimilikinya akan mengantarkan dia pada kesimpulan tentang kemahakuasaan Allah.

“Ketika fokus mendalami ilmu maka pada suatu titik akan terpahami bahwa semesta kenyataan berada di bawah kontrol Allah SWT” tutupnya. (ZNR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *