oleh

Tergugat Katakan Pembebasan Lahan Apartemen Signature Park Grande Belum Bermusyawarah dengan Ahli Waris

Jakarta, TribunAsia.com – Perkara Perdata antara ahli waris dengan Apartemen Signature Park dijelaskan oleh Tergugat, tanah seluas 4.500 meter persegi terdapat di Cawang, Jalan Letjen M.T. Haryono, Jakarta Timur. Akan tetapi, agenda sidang yang di gelar Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) tepatnya pada Kamis itu berupa kesimpulanilan. SP turut mengatakan, dalam pembebasan lahan Apartemen, ahli waris yang menggugat dinyatakan belum diajak bermusyawarah dalam proses pembayaran.

“Tentang masalah tanah yang di Cawang. Pada saat itu kan ada pembebasan tanah itu sebutkan namanya pada saat itu dia membebaskan tanah seluas 4.500 meter. Ada salah satu ahli waris sebelum diajak musyawarah penjualan tanah mangkanya nuntut ini 1 orang ini . Saya kan pihak tergugat 50,52,55 dan 56,” ujar SP yang enggan menyebutkan diri.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

SP menambahkan, kasus tersebut telah berjalan sebanyak empat kali dalam persidangan dan digugat berkali-kali. Menurut dia, dalam keterangannya diuraikan kembali dan katanya terdapat perbedaan letak tanah dan giriknya.

“Ini kan ditinggal ketika pembebasan tanah ini jadi dia menuntut giriknya tidak sesuai di tempat lokasi saya beli pembebasan tanah itu. Tapi kasus ini sudah empat (4) kali sidang jadi sudah MO digugat lagi digugat lagi. Kalau nggak salah saya Ini yang keempatnya untuk sementara ini yang kita berjalan sementara sakti-saksi dari dia tidak terletak dari lokasi tanah saya,” katanya kepada TribunAsia.com, Kamis (14/3/2019).

Perlu diketahui, sengketa lahan yang terdapat di Apartemen Signature Park dia tidak mengetahui secara jelas luas tanah tersebut. Sambung SP, kliennya dituntut oleh ahli waris karena diketemukan perbedaan keterangan letak tanah di kantor kelurahan setempat.

Baca Juga : Ahli Waris Tanah Gugat Apartemen Signature Park Cawang Jaktim Karena Cacat Hukum

“Signatur Park itu di Cawang. Itu tanah sengketa bangunannya juga itu ada Saya cuman nggak tanah luasnya saya tidak lihat jadi saya cuma ngasih tahu tanah itu. Tanah Klien saya (hubungan) jadi dituntut sama ahli waris yang menyatakan itu tanah miliknya dia. Sedangkan tidak sesuai dengan letter C yang ada di kelurahan. Saya tergugat 50,52,55, 56, maaf lokasinya saya juga nggak jelas lokasinya itu saya nggak tahu lokasinya itu karena saya belum tinjau lokasinya itu,” terang SP.

Sedangkan, Patuan Anggi Nainggolan, SH dan Associates mengatakan dalam agenda sidang kesimpulan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur bahwa diketemukan kejanggalan yaitu berupa tanda tangan ahli waris yang telah meninggal. Lebih lanjut, ahli waris tanah lancarkan Gugatan terhadap Apartemen Signature Park dan meminta pembatalan perdamaian karena dinilai cacat hukum.

“Hari ini cuma menyampaikan kesimpulan, materi kita ini dalam gugatan meminta pembatalan perdamaian karena itu cacat hukum. Pertama ahli waris yang sudah meninggal ikut dalam perdamaian dan menandatangani itu pertama kedua di dalam perdamaian,” kata pria berdasi.

Selain itu, Tim Kuasa Penggugat memaparkan diatas tanah yang mencapai 4 hektar lebih tidak diperbolehkan konvensasi pembayaran dalam peosesnperdamaian. Ironisnya, kata dia dalam perdamaian tidak dilakukan langsung kepada ahli waris namun demikian melalui pihak lain.

“Berdamai tentang 4500 persegi itu ada konvensasi uangnya ini tidak ada sama sekali kan begitu. Ketika di dalam perdamaian itu bahwa pemilik tanah adalah orang lain bukan klien kami padahal orang lain itu dimasukkan dalam perdamaian dari pihak lain. Kenapa berdamai dengan klien saya itu kan lucu,” imbuh Patuan.

Disamping itu, Apartemen Signature Park yang terletak di bilangan Cawang Jakarta Timur tersebut, yang rencananya akan dibangun Mall telah diblokir oleh dia setahun yang lalu sebab sedang bermasalah. Patuan Anggi Nainggolan, SH pun mengutarakan kendala tidak dapat dibangun Mall yang berada di area Apartemen itu dengan alasan tanah tersebut milik kliennya.

“Mereka atas nama Signature Park. Jadi signatur Park ini membebaskan 4,5 hektar lahan yaitu berdiri di atasnya itu signatur Park masuk mall yang akan dibangun. Mall ini sudah kami blokir setahun yang lalu supaya tidak bisa dibangun karena itu milik klien kami. Didalam 4500 inilah sampai sekarang tidak bisa dibangun karena kami diblokir. Ini yang kami juga tentang perdamaian itu, karena klien kami berpedoman kepada perdamaian itu nomor yang 21 itu.bMereka sudah merasa damai padahal jelas itu rekayasa mereka. Terus tidak tahu kalau ada perdamaian itu,” tegas dia lagi.

Kendati demikian Patuan menyebutkan, mediasi dikakukan muncul perdamaian pada tahun 2011. Ia berpendapat, dengan melihat perdamaian dirinya terkejut dan mengambil sikap melalui gugatan. Kata dia, dalam gugatan tersebut Patuan bersama klienya

“Ketika dilakukan mediasi muncul-lah perdamaian ini lagi mau didamaikan karena kami sudah berdamai tahun 2011 ini perdamaiannya. Kami melihat perdamaian tentu kami terkejut, karena itu lalu mangkanya melakukan gugatan perdamaian hal ini. Perkara Nomor 31 kami cabut ini fokus pada pembatalan perdamaian ini karena mereka berfokus merasa memiliki tanah berdasarkan perdamaian itu. Ini yang sekarang secara hukum cacat hukum kira-kira,” tuturnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *