oleh

4 Penghalang Turunnya Azab Allah

TribunAsia.com

Azab Allah yang bersifat penghancuran umum menurut sebagian ulama  tidak terjadi lagi setelah Allah Ta’ala menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa berdasarkan isyarat dari ayat Alquran: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia, petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.” (QS. Al-Qashash: 43)

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Azab Allah dengan penghancuran menyeluruh disebut dengan istilah azab istishal yaitu azab dengan penghancuran suatu komunitas secara menyeluruh sehingga tidak ada yang hidup lagi di antara mereka, seperti yang terjadi pada kaum Ad, Tsamud, kaum Nabi Luth dan Firaun beserta bala tentaranya. Ada beberapa faktor yang dapat menghalangi turunnya azab Allah yang bersifat penghancuran umum tersebut, meskipun azab Allah kepada individu atau beberapa pihak yang zalim masih mungkin terjadi.

Pertama, keberadaan pribadi Rasulullah saw, atau para ulama dan dai atau kaum muslimin yang melakukan amar maruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat.

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 32-33).

Juga berdasarkan hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan derajat hasan, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, lakukanlah amar maruf nahi munkar atau hampir saja Allah mengirimkan hukuman atas kalian dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya lalu doa kalian tidak dikabulkan.” (HR. Tirmidzi)

Kedua, keberadaan orang-orang yang beristighfar memohon ampun kepada Allah di tengah masyarakat. Atau keberadaan orang-orang yang berdosa namun masih menyadari bahwa perbuatannya adalah dosa, dan masih menyesalinya dengan mohon ampun kepada Allah, seperti yang disebutkan oleh ayat 33 Surat Al-Anfal di atas. Di dunia saat ini hampir selalu ada para dai pelaku amar maruf nahi munkar, atau kelompok kaum muslimin yang melakukan amar maruf nahi munkar dengan menggunakan berbagai sarana, atau orang-orang yang masih memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka.

Ketiga, karena Allah berkehendak menunda azab secara fisik untuk orang-orang zalim tanpa melalaikan perhitungan atas kezaliman yang mereka lakukan dan menyediakan azab yang pedih untuk mereka di akhirat. “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 42).

Keempat, adanya hikmah lain yang bisa jadi hanya Allah yang tahu sehingga Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada suatu kaum meskipun penghalang-penghalang lain sudah tidak ada. Diantara bentuk hikmah tersebut misalnya: Allah mengetahui bahwa di antara mereka di masa depan ada yang bertobat, yang kafir menjadi muslim, yang dzalim menjadi pembela orang yang di dzalimi dan seterusnya. Seperti yang terjadi pada Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abu Jahal, Hindun binti Utbah radhiyallahu anhum di masa Rasulullah saw. Allah swt. Berfirman : “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dzalim. Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 128-129)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *